Haluannews Ekonomi – Salim Group, raksasa konglomerat yang produk-produknya merajai pasar domestik hingga internasional saat ini, pernah menghadapi badai dahsyat yang hampir meruntuhkan imperium bisnisnya. Kisah jatuh bangunnya entitas ini tak terpisahkan dari sosok pendirinya, Sudono Salim (Liem Sioe Liong), dan jalinan relasinya dengan kekuasaan Orde Baru. Untuk memahami bagaimana kerajaan bisnis ini tumbuh begitu besar, lalu terpukul hebat, kita perlu menelusuri kembali jejaring yang dibangun Sudono Salim bersama rezim pada masanya.

Related Post
Jejak kejayaan Salim Group bermula dari kedekatan personal Sudono Salim dengan Presiden Soeharto. Relasi ini, yang terjalin sejak masa perjuangan kemerdekaan saat Salim berkiprah sebagai penyuplai logistik pasukan Kolonel Soeharto, kemudian berkembang menjadi kemitraan strategis yang saling menguntungkan selama tiga dekade kepemimpinan Orde Baru. Seperti diungkapkan Richard Borsuk dan Nancy Chng dalam "Liem Sioe Liong dan Salim Group" (2016), Soeharto memberikan perlindungan dan kemudahan bisnis, sementara Salim Group menjadi kanal penting penyaluran dana bagi lingkaran kekuasaan.

Selama periode tersebut, kedua belah pihak sama-sama berjaya. Sudono Salim sukses membangun tiga pilar utama kerajaan bisnisnya: perbankan melalui Bank Central Asia (BCA), sektor bangunan dengan Indocement, serta industri makanan yang diwakili Bogasari dan Indofood. Ia tercatat sebagai salah satu orang terkaya di Indonesia, sementara Soeharto kokoh memegang tampuk kekuasaan. Namun, kejayaan ini tiba-tiba runtuh dalam hitungan hari di bulan Mei 1998.
Target Amukan Massa dan Kerugian Kolosal
Badai krisis moneter 1998 menghantam telak fondasi bisnis ini. Bank Central Asia (BCA), pilar utama kerajaan Salim di sektor perbankan, menjadi korban pertama. Sejarawan M.C. Ricklefs dalam "Sejarah Indonesia Modern" (2009) mencatat, kepanikan massal memicu penarikan dana besar-besaran oleh nasabah. Ratusan orang rela antre berjam-jam untuk menguras seluruh tabungannya, menciptakan antrean panjang dan mengancam likuiditas bank. Kepercayaan publik runtuh, dan BCA di ambang kebangkrutan.
Puncak krisis terjadi pada Mei 1998. Kedekatan Sudono Salim dengan Soeharto yang sebelumnya menjadi privilese, kini berbalik menjadi malapetaka. Sentimen anti-Soeharto yang meluas, ditambah stereotip negatif terhadap etnis Tionghoa sebagai "crony" penguasa, menjadikan aset-aset Salim Group target amukan massa. Setelah unjuk rasa beralih menjadi kerusuhan rasial pada 13 Mei 1998, Jakarta dan sekitarnya dilanda penjarahan dan pembakaran. Massa yang terprovokasi menyasar bangunan dan kendaraan milik warga Tionghoa.
Jemma Purdey dalam "Kekerasan Anti-Tionghoa di Indonesia 1996-1999" (2013) menjelaskan bahwa stereotip kekayaan dan kedekatan dengan penguasa membuat Sudono Salim menjadi tokoh sentral yang dibenci. "Bank Central Asia milik Liem Sioe Liong merupakan objek serangan utama," tulis Ricklefs.
Beruntung, saat kerusuhan memuncak, Sudono Salim beserta istri dan beberapa anaknya berada di Amerika Serikat untuk operasi mata. Di Jakarta, hanya ada Anthoni Salim yang bekerja di Wisma Indocement. Anthoni bahkan tidak berani pulang ke rumah ayahnya di kawasan Roxy karena kerusuhan juga menyasar permukiman warga Tionghoa. Prediksi buruk itu menjadi kenyataan. Pagi hari tanggal 14 Mei, sekelompok pemuda bersenjatakan jerigen bahan bakar mendatangi rumah mewah Liem. Anthoni, tak berkutik, memerintahkan satpam untuk mempersilakan massa masuk demi menghindari pertumpahan darah.
"Dalam sekejap, seluruh mobil di garasi terbakar, termasuk juga seisi rumah. Mereka membakar furnitur, mencopot lukisan dan mengobrak-abrik kamar. Bahkan mereka mencoret-coret rumah dengan kata-kata tidak pantas," tutur Anthoni kepada Richard Borsuk dan Nancy Chng. Asap hitam membumbung tinggi dari kediaman Salim, sementara di jalanan, foto-foto Sudono Salim dilempari batu dan dibakar oleh massa yang marah, seperti diberitakan Kompas pada 15 Mei 1998. Melihat situasi yang memburuk, Anthoni segera meninggalkan kantornya menuju Bandara Halim untuk terbang ke Singapura menggunakan jet pribadi, dari sana ia memantau perkembangan bisnisnya.
Keruntuhan dan Kebangkitan Kembali
Setelah kerusuhan mereda dan Soeharto lengser, BCA mengalami kerugian paling parah. Tercatat 122 cabang rusak, dengan 17 kantor terbakar habis, 26 cabang dirusak dan dijarah, serta 75 cabang rusak namun tidak dijarah. Sebanyak 150 ATM dirusak dan uang tunainya diambil, menelan kerugian sekitar Rp 3 miliar. Indofood juga tidak luput; pabriknya di Solo dijarah dan dibakar hingga merugi Rp 42 miliar, serta pusat distribusinya di Tangerang hancur. Hanya Indocement yang relatif mampu bertahan.
Namun, pukulan paling telak adalah di sektor perbankan. Seminggu setelah Soeharto lengser pada 21 Mei 1998, BCA diambil alih oleh pemerintah melalui Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) dan resmi menjadi Bank Taken Over (BTO). Pengambilalihan ini bertujuan untuk menolong BCA agar tidak jatuh lebih dalam, sekaligus menandai berakhirnya kepemilikan keluarga Salim atas aset perbankan vital itu. Richard Borsuk dan Nancy Chng menyebut, untuk menghidupi kembali mesin-mesin kekayaannya, Salim hanya mengandalkan Indofood.
Kini, 25 tahun setelah kejadian memilukan itu, Salim Group di bawah kepemimpinan Anthoni Salim telah bangkit lebih kuat. Bisnisnya tidak hanya Indofood, tetapi juga merambah sektor migas, konstruksi, perbankan, hingga pusat data. Mengutip daftar 50 orang terkaya Forbes, Anthoni Salim dan keluarga duduk di urutan kelima dengan total kekayaan mencapai US$ 12,8 miliar atau setara Rp 214,32 triliun, membuktikan ketahanan dan adaptasi strategis dalam menghadapi tantangan ekonomi yang ekstrem.
Editor: Rohman




Tinggalkan komentar