Haluannews Ekonomi – Laporan terbaru dari Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) mengungkap fenomena menarik sekaligus mengkhawatirkan: pertumbuhan tabungan yang timpang antara kelompok kaya dan kelas menengah bawah. Data menunjukkan simpanan milik kaum berada melesat tinggi, sementara tabungan masyarakat menengah bawah justru terseok-seok.

Related Post
Ferdinan D. Purba, Anggota Dewan Komisioner Bidang Program Penjaminan Polis LPS, menjelaskan bahwa simpanan di bank umum dengan nominal di atas Rp5 miliar mengalami lonjakan signifikan sebesar 22,76% secara tahunan pada Desember 2025. Pertumbuhan fantastis ini diduga kuat dipicu oleh kebijakan penempatan dana saldo anggaran lebih (SAL) dari Kementerian Keuangan di bank-bank BUMN dan daerah.

"Ini kemungkinan besar dipengaruhi oleh kontribusi penempatan dana SAL pemerintah yang persentasenya cukup tinggi," ujar Ferdinan dalam Konferensi Pers Penetapan TBP LPS, di Kantor Pusat LPS, Pacific Century Place, Kamis (22/1/2026) malam.
Ironisnya, pertumbuhan tabungan dengan nominal Rp1 juta-Rp100 juta hanya mencatat kenaikan tipis sebesar 3,43% secara tahunan pada periode yang sama. Kondisi ini mengindikasikan bahwa kelas menengah bawah masih kesulitan meningkatkan simpanan mereka.
Ferdinan menambahkan bahwa kenaikan tabungan kelas menengah bawah biasanya terjadi pada momen-momen tertentu, seperti hari besar keagamaan atau nasional yang disertai dengan pemberian tunjangan. "Dari pengamatan kami, kenaikan [tabungan] di bawah Rp100 juta itu dominan disebabkan oleh hari-hari besar yang disertai dengan tunjangan-tunjangan," jelasnya.
Kesenjangan pertumbuhan tabungan ini menjadi sinyal penting bagi pemerintah dan pemangku kebijakan untuk lebih memperhatikan kondisi ekonomi masyarakat kelas menengah bawah. Perlu adanya upaya konkret untuk meningkatkan pendapatan dan daya beli masyarakat, sehingga mereka dapat memiliki kesempatan yang sama untuk meningkatkan kesejahteraan finansial.
Editor: Rohman










Tinggalkan komentar