Investor Ritel Pemicu Utama? Gelembung Emas & Saham AS di Ujung Tanduk!

Investor Ritel Pemicu Utama? Gelembung Emas & Saham AS di Ujung Tanduk!

Haluannews Ekonomi – Bank for International Settlements (BIS) mengeluarkan peringatan serius mengenai pergerakan harga emas dan saham di Amerika Serikat. Lembaga yang dijuluki "bank sentralnya bank sentral" ini mengidentifikasi adanya ciri-ciri "gelembung" yang berpotensi memicu koreksi tajam di pasar, dengan investor ritel sebagai salah satu pendorong utamanya.

COLLABMEDIANET

Dalam tinjauan triwulanan terbarunya yang dirilis pada Senin, BIS menyoroti karakteristik klasik dari sebuah gelembung pasar, yaitu "euforia" di kalangan investor ritel, lonjakan valuasi yang tidak proporsional, serta liputan media yang masif dan berlebihan. Fenomena ini, menurut BIS, kini terlihat jelas pada pasar emas dan ekuitas AS, meningkatkan risiko pembalikan yang tidak teratur.

Investor Ritel Pemicu Utama? Gelembung Emas & Saham AS di Ujung Tanduk!
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Harga emas global telah mencatatkan kenaikan fantastis sebesar 60% sepanjang tahun ini, menjadikannya kinerja terbaik sejak 1979. Di sisi lain, pasar saham AS juga menunjukkan performa impresif, terutama didorong oleh raksasa teknologi yang diuntungkan dari ledakan kecerdasan buatan (AI). Indeks S&P 500 melonjak 17%, sementara Nasdaq Composite meroket 22%. BIS secara khusus mencatat bahwa ini adalah kali pertama dalam setidaknya lima dekade terakhir di mana kedua aset tersebut—emas dan ekuitas—menunjukkan tanda-tanda gelembung secara simultan.

Berbeda dengan peringatan sebelumnya dari IMF dan Bank of England yang fokus pada saham AI, BIS secara spesifik menyoroti kontribusi signifikan investor ritel dalam memompa harga emas batangan dan ekuitas AS. Data menunjukkan bahwa dalam tiga bulan terakhir, mayoritas arus masuk ke dana investasi emas dan saham AS berasal dari investor ritel, sementara investor institusional justru mengurangi atau mempertahankan posisi mereka. Keterlibatan investor ritel yang dominan ini dianggap mengancam stabilitas pasar, mengingat kecenderungan mereka untuk bertindak secara kolektif (herd behavior) yang dapat memperparah volatilitas harga saat terjadi aksi jual massal.

Meskipun harga emas sempat terkoreksi dari puncaknya di US$4.381 per troy ounce pada Oktober menjadi sekitar US$4.200 pada Senin, lonjakan harga sepanjang tahun ini tidak lepas dari beberapa faktor pendorong. Pembelian masif oleh bank sentral global yang berupaya mendiversifikasi cadangan mereka dari dominasi dolar AS menjadi salah satu pilar utama. Selain itu, kekhawatiran investor terhadap inflasi dan tingginya tingkat utang pemerintah juga meningkatkan daya tarik emas sebagai aset "safe haven". Sejak 2022, pembelian emas oleh bank sentral telah mencapai rekor historis, sekitar 1.000 ton per tahun. Namun, reli ekstrem ini bahkan mendorong beberapa bank sentral untuk menjual sebagian kepemilikan mereka demi menjaga batas alokasi.

Sejarah mencatat, pasar emas pernah mengalami siklus serupa, seperti pada tahun 1980 saat inflasi dan krisis minyak Iran memicu lonjakan harga, atau setelah krisis finansial 2008 yang membawa emas ke puncak US$1.830 per troy ounce pada 2011, sebelum akhirnya terkoreksi 30% dalam dua tahun berikutnya.

Khusus untuk pasar saham AS, BIS menggarisbawahi bahwa keuntungan luar biasa yang dinikmati oleh perusahaan-perusahaan teknologi raksasa telah memicu kekhawatiran serius. Valuasi yang dianggap terlalu tinggi ini berpotensi menimbulkan risiko sistemik bagi pasar saham yang lebih luas dan bahkan perekonomian secara keseluruhan jika terjadi koreksi harga yang signifikan.

Dengan mempertimbangkan semua indikator ini, BIS menegaskan bahwa setelah fase pertumbuhan yang "eksplosif," gelembung pasar cenderung pecah dengan koreksi yang tajam dan cepat, sebuah skenario yang kini membayangi pasar emas dan ekuitas AS, sebagaimana dilaporkan Haluannews.id.

Editor: Rohman

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar