Investor Panik IHSG Ambruk Lagi Jumat Kelabu

Investor Panik IHSG Ambruk Lagi Jumat Kelabu

haluannews.id – Pasar saham Indonesia kembali dilanda sentimen negatif pada Jumat 11 September 2026. Indeks Harga Saham Gabungan IHSG tak berdaya dan anjlok dalam, melanjutkan tren pelemahan yang membuat investor cemas.

COLLABMEDIANET

Penutupan sesi pertama menunjukkan IHSG terjun 1,49 persen atau setara 98,43 poin, mengakhiri perdagangan di level 6.490,91. Sejak dibuka di 6.552,79, indeks sempat menyentuh puncak 6.552,70 sebelum terperosok ke titik terendah 6.462,96, mencerminkan dominasi tekanan jual.

Investor Panik IHSG Ambruk Lagi Jumat Kelabu
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Data pasar menunjukkan tekanan terjadi secara merata. Tercatat 545 saham melemah, jauh melampaui 141 saham yang menguat, sementara 277 saham lainnya stagnan. Total nilai transaksi mencapai Rp8,46 triliun, melibatkan 18,90 miliar saham dengan 1,22 juta kali frekuensi perdagangan.

Seluruh sektor industri kompak berada di zona merah, menandakan sentimen negatif yang meluas. Sektor energi memimpin koreksi dengan penurunan 2,79 persen. Disusul sektor barang konsumer non-primer yang anjlok 1,67 persen, utilitas 1,61 persen, perindustrian 1,56 persen, dan keuangan 1,52 persen.

Sejumlah emiten berkapitalisasi besar menjadi pemicu utama ambruknya IHSG. Saham PT Bayan Resources Tbk BYAN menyumbang tekanan terbesar 14,30 poin, diikuti PT Bank Central Asia Tbk BBCA dengan 14,08 poin.

Selanjutnya, PT Bank Rakyat Indonesia Persero Tbk BBRI menekan 7,76 poin, PT Bank Mandiri Persero Tbk BMRI 4,34 poin, dan PT Bumi Resources Minerals Tbk BRMS 3,96 poin. Beberapa nama lain seperti PT Merdeka Copper Gold Tbk MDKA PT Bank Negara Indonesia Persero Tbk BBNI PT Mora Telematika Indonesia Tbk MORA PT Dian Swastatika Sentosa Tbk DSSA serta PT Barito Renewables Energy Tbk BREN juga turut memperparah kondisi.

Di tengah badai merah, hanya segelintir saham yang mampu menopang. PT Amman Mineral Internasional Tbk AMMN menjadi penyelamat dengan kontribusi positif 1,79 poin, disusul PT Maha Properti Indonesia Tbk MPRO 0,72 poin dan PT Energi Mega Persada Tbk ENRG 0,54 poin.

Pelemahan ini bukan kali pertama. Sehari sebelumnya, Kamis 10 September 2026, IHSG juga ditutup anjlok 1,33 persen ke 6.589,34, dengan semua sektor turut melemah, menunjukkan tren penurunan yang berkelanjutan.

Sentimen global turut memperkeruh suasana. Analis menyoroti eskalasi konflik AS-Iran dan lonjakan harga minyak dunia sebagai faktor yang membuat bursa regional, termasuk Indonesia, rentan terhadap gejolak dan tekanan.

Selain itu, persoalan utang Amerika Serikat yang membengkak hingga US$40 triliun mencetak rekor baru, memicu kekhawatiran akan semakin beratnya beban fiskal negara adidaya tersebut.

Upaya Departemen Keuangan AS melakukan buyback surat utang senilai US$6 miliar untuk menjaga likuiditas pasar obligasi justru direspons negatif oleh pasar. Imbal hasil atau yield Treasury 10 tahun melonjak ke 4,84 persen, tertinggi sejak Oktober 2023. Yield tenor 20 tahun mencapai 5,314 persen dan 30 tahun menembus 5,3 persen.

Kenaikan yield Treasury ini menjadi perhatian serius investor. Kondisi ini meningkatkan daya tarik aset berdenominasi dolar AS, sekaligus memberikan tekanan signifikan pada valuasi aset berisiko, termasuk saham di pasar negara berkembang seperti Indonesia.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar