haluannews.id – Otoritas moneter Amerika Serikat The Fed, baru-baru ini mengumumkan kabar mengejutkan terkait gejolak inflasi di Negeri Paman Sam. Tekanan kenaikan harga disebut kembali melambung tinggi pada musim semi tahun ini, dipicu oleh kombinasi faktor yang tak terduga: dampak tarif perdagangan, lonjakan harga energi akibat konflik global, serta derasnya investasi untuk pengembangan infrastruktur kecerdasan buatan (AI).

Related Post
Laporan kebijakan moneter yang disampaikan The Fed kepada Kongres AS pada Jumat (10/7/2026) secara tegas menyatakan bahwa laju inflasi masih jauh melampaui target jangka panjang bank sentral sebesar 2%. "Inflasi telah meningkat tahun ini dan tetap tinggi relatif terhadap target jangka panjang Komite Pasar Terbuka Federal sebesar 2%," demikian kutipan dari laporan tersebut. Data terbaru menunjukkan, indeks Personal Consumption Expenditures (PCE), indikator inflasi pilihan The Fed, bahkan berada di kisaran dua kali lipat dari target hingga bulan Mei.

Di tengah kekhawatiran inflasi, kondisi pasar tenaga kerja AS justru menunjukkan ketahanan. The Fed mencatat angka pengangguran pada Juni berada di level 4,2%, terbilang rendah. Laporan tersebut juga mengindikasikan keseimbangan relatif antara penawaran dan permintaan tenaga kerja, dengan lowongan pekerjaan yang cenderung datar dan angka pemutusan hubungan kerja (PHK) yang minim. Namun, ada catatan penting: jumlah angkatan kerja mengalami stagnasi, disebabkan oleh melambatnya arus imigrasi dan faktor demografi penuaan populasi.
Meskipun pertumbuhan tenaga kerja melambat, The Fed optimis daya dukung ekonomi AS tetap kuat, berkat peningkatan produktivitas yang mampu mengkompensasi kekurangan tersebut. Sepanjang beberapa bulan pertama tahun 2026, ekonomi AS mencatat laju pertumbuhan sedang sebesar 2,1% secara tahunan. Gelombang investasi AI menjadi pendorong utama, meski tertahan oleh melambatnya sektor properti dan konsumsi rumah tangga yang hanya meningkat terbatas.
Laporan ini menandai era baru di bawah kepemimpinan Ketua The Fed Kevin Warsh, yang baru menjabat akhir Mei lalu. Ia dijadwalkan akan memberikan kesaksian di hadapan komite DPR dan Senat AS pekan depan untuk evaluasi kebijakan moneter. Sidang rutin yang seharusnya digelar musim semi sempat tertunda akibat polemik antara mantan Ketua The Fed Jerome Powell dan Presiden AS Donald Trump.
Sejak Desember lalu, The Fed memang mempertahankan suku bunga acuannya. Namun, kecemasan akan inflasi yang membayangi, terutama pasca-konflik geopolitik yang memanas antara AS-Israel dengan Iran pada akhir Februari, membuat investor mulai berspekulasi tentang kemungkinan kenaikan suku bunga tahun ini. Meski Warsh menolak memberi isyarat kebijakan mendatang, proyeksi para pejabat The Fed dalam rapat 16-17 Juni menunjukkan polarisasi pandangan: sebagian melihat perlunya kenaikan suku bunga, sementara sebagian lain berpendapat suku bunga dapat dipertahankan atau bahkan diturunkan.
Salah satu poin menarik dalam laporan ini adalah sorotan terhadap AI sebagai pendorong inflasi jangka pendek. Sebelumnya, Warsh sempat melihat AI berpotensi meredam inflasi melalui peningkatan produktivitas. Namun, ia kini mengakui bahwa dampak positif tersebut belum instan, sementara permintaan masif akan energi, cip khusus, dan material pendukung untuk pembangunan infrastruktur AI terus meningkat. Selain itu, laporan The Fed juga kembali menyinggung laju peredaran uang M2 untuk pertama kalinya sejak 2016, yang kini kembali ke kisaran umum dekade 2010-an.
The Fed turut mengulas berbagai model kebijakan moneter yang mengindikasikan perlunya kenaikan suku bunga. Namun, bank sentral mengingatkan agar rekomendasi tersebut tidak ditelan mentah-mentah. "Resep yang ditunjukkan di sini mengabaikan bahwa perekonomian akan berkembang secara berbeda jika kebijakan suku bunga mengikuti salah satu jalur yang ditentukan oleh peraturan, dan oleh karena itu, resep ini harus ditafsirkan dengan hati-hati," bunyi laporan tersebut, menekankan perlunya kehati-hatian dalam menafsirkan rekomendasi kebijakan.










Tinggalkan komentar