Haluannews Ekonomi – Gelombang pasokan baja impor, khususnya jenis Hot Rolled Coil (HRC) dari Tiongkok, terus membanjiri pasar domestik Indonesia. Fenomena ini bukan sekadar dinamika pasar biasa, melainkan ancaman serius yang menggerus daya saing industri baja nasional, demikian terungkap dalam sebuah diskusi ekonomi baru-baru ini. Produk baja asal Negeri Tirai Bambu yang ditawarkan dengan harga sangat kompetitif ini menjadi momok bagi keberlangsungan sektor manufaktur baja di Tanah Air.

Related Post
Johanes W Edward, Chief Strategy and Business Development Officer PT Steel Pipe Industry of Indonesia Tbk (ISSP) atau SPINDO, menegaskan bahwa tekanan utama dari serbuan baja impor ini paling terasa di sektor hulu industri baja. Kondisi oversupply global yang didominasi oleh produk Tiongkok menjadikan Indonesia sebagai pasar yang sangat menggiurkan bagi aliran baja asing. Ironisnya, masuknya pemain baru yang tidak murni berakar dari Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) turut memperparah erosi daya saing baja produksi dalam negeri.

Lebih lanjut, Johanes menguraikan bahwa ancaman serius ini mayoritas menghantam segmen baja karbon (Carbon Steel). Sementara itu, sektor Baja Tahan Karat (Stainless Steel) masih menunjukkan ketahanan yang cukup baik di tengah gempuran impor. Kondisi ini menuntut perhatian khusus dari pemangku kebijakan untuk melindungi segmen yang paling rentan.
Para pelaku usaha baja nasional sangat berharap adanya dukungan konkret dari pemerintah dalam memajukan industri strategis ini. Salah satu instrumen kebijakan yang dinilai krusial adalah implementasi ketat Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) dalam setiap proyek pembangunan nasional. Selain itu, diperlukan pula dorongan untuk meningkatkan daya saing baja Indonesia di kancah global melalui pemberian insentif yang meringankan beban industri, bukan justru memberatkan. Ini termasuk memangkas regulasi yang menghambat dan menyediakan fasilitas yang mendukung inovasi serta efisiensi.
Persoalan banjir baja impor ini bukan hanya sekadar isu komersial, melainkan menyangkut kedaulatan ekonomi dan keberlangsungan lapangan kerja. Oleh karena itu, sinergi antara pemerintah dan industri menjadi kunci untuk merumuskan solusi komprehensif. Selengkapnya, Johanes W Edward menyampaikan pandangannya dalam dialog eksklusif dengan Bunga Cinka di program Manufacture Check, Haluannews.id, baru-baru ini.
Editor: Rohman










Tinggalkan komentar