Haluannews Ekonomi – Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada sesi pertama perdagangan hari Rabu, 24 Desember 2025, terpantau sangat minim, nyaris tidak menunjukkan perubahan signifikan dari posisi penutupan sebelumnya. Pasar modal Indonesia tampak memasuki fase konsolidasi menjelang libur panjang Natal.

Related Post
Setelah sempat dibuka dengan optimisme tipis, menguat 0,15%, IHSG kemudian mengalami tekanan, tergelincir hingga menyentuh level 8.553,7, mencatat koreksi 0,35%. Namun, daya tahan pasar berhasil menahan penurunan lebih lanjut, dengan indeks bergerak dalam rentang sempit antara 8.553,7 hingga 8.611,33. Akhirnya, IHSG menutup sesi pertama di angka 8.587,49, hanya menguat tipis 0,03%.

Aktivitas perdagangan sepanjang sesi pagi mencatatkan nilai transaksi sebesar Rp 13,5 triliun. Sebanyak 18,17 miliar lembar saham berpindah tangan melalui 1,52 juta kali transaksi. Sementara itu, kapitalisasi pasar (market cap) Bursa Efek Indonesia tetap kokoh di kisaran Rp 15.700 triliun, menunjukkan stabilitas meskipun pergerakan indeks minim.
Berdasarkan data yang dihimpun oleh Haluannews.id, hanya empat sektor yang berhasil bertahan di zona positif. Sektor teknologi memimpin penguatan dengan kenaikan 1,19%, diikuti oleh sektor konsumer primer yang tumbuh 0,55%, industri 0,46%, dan properti yang menguat 0,42%.
Di sisi lain, mayoritas sektor lainnya harus rela parkir di zona merah. Sektor utilitas, kesehatan, energi, konsumer non-primer, bahan baku, dan finansial, semuanya kompak mengalami koreksi.
Beberapa saham berkapitalisasi besar dan menengah berperan sebagai penopang utama laju IHSG agar tidak terperosok lebih dalam. Di antaranya adalah Astra International (ASII), Moratelindo (MORA), Bank Mandiri (BMRI), GoTo Gojek Tokopedia (GOTO), dan Chandra Asri Pacific (TPIA).
Sebaliknya, saham-saham seperti Barito Pacific (BRPT), Dian Swastatika Sentosa (DSSA), VKTR Teknologi (VKTR), Barito Renewables Energy (BREN), dan Sinar Mas Multiartha (SMMA) menjadi beban utama yang menahan penguatan indeks.
Perdagangan hari ini menandai sesi terakhir sebelum jeda libur Natal. Investor akan kembali beraktivitas pada pekan depan, dengan dua hari perdagangan tersisa di tahun 2025, sebelum pasar ditutup dan dibuka kembali secara penuh pada 2 Januari 2026.
Suasana libur panjang Natal dan Tahun Baru (Nataru) memang kian terasa, memengaruhi dinamika pasar keuangan. Namun, para pelaku pasar tetap mencermati sejumlah sentimen krusial yang berpotensi menggerakkan pasar. Dari kancah global, rilis data pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat serta perkembangan terkini kesepakatan dagang antara Indonesia dan Negeri Paman Sam akan menjadi sorotan. Sementara itu, dari dalam negeri, pengumuman Upah Minimum Provinsi (UMP), termasuk di DKI Jakarta, juga diperkirakan akan menjadi salah satu faktor penggerak pasar.
Editor: Rohman










Tinggalkan komentar