Haluannews Ekonomi – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali menunjukkan performa positif pada sesi I perdagangan Senin (20/1/2025), menguat 0,29% ke level 7.175,27. Pergerakan ini terjadi di tengah antisipasi pasar terhadap pelantikan Donald Trump sebagai Presiden Amerika Serikat (AS) untuk periode kedua. Nilai transaksi hingga pukul 12.00 WIB mencapai Rp 5,9 triliun dengan volume 12,3 miliar lembar saham yang diperdagangkan sebanyak 739.392 kali. Dari 799 saham yang diperdagangkan, 281 saham menguat, 283 melemah, dan sisanya stagnan.

Related Post
Sektor teknologi dan bahan baku menjadi penggerak utama penguatan IHSG, masing-masing berkontribusi 1,65% dan 1,05%. Namun, sorotan tertuju pada kontribusi signifikan dari dua bank BUMN raksasa, yakni Bank Mandiri (BMRI) dan Bank Rakyat Indonesia (BBRI), yang masing-masing menyumbang 13,5 dan 10,2 poin indeks. GoTo (GOTO) dan Bank Negara Indonesia (BBNI) juga ikut memberikan andil positif, sebesar 6,9 dan 4,3 poin indeks.

Penguatan IHSG terjadi meskipun pasar masih dibayangi ketidakpastian kebijakan ekonomi Trump di masa jabatan keduanya. Laporan inflasi AS yang lebih rendah dari ekspektasi memang memberikan sentimen positif, namun kekhawatiran akan kebijakan proteksionisme Trump tetap membayangi. Analis memprediksi era Trump 2.0 berpotensi menimbulkan gejolak global mengingat pengalaman pahit di periode sebelumnya (2017-2020), terutama saat perang dagang memanas di tahun 2018.
Pasar saham Indonesia sendiri menghadapi tekanan cukup berat sejak terpilihnya Trump, dengan IHSG sempat anjlok 3,14% sejak 5 November hingga akhir pekan lalu. Tekanan serupa juga terjadi pada awal hingga pertengahan Januari 2025, di mana IHSG merosot 1,74% hingga mencapai level 6.956,66. Situasi ini mengingatkan pada periode pelantikan Trump pertama, yang juga diwarnai pelemahan IHSG akibat sentimen negatif terhadap kebijakan proteksionisme.
Penguatan dolar AS di pasar global juga menjadi faktor yang perlu diperhatikan. Kebijakan ekonomi Trump yang berorientasi domestik dikhawatirkan akan kembali memicu inflasi di AS, sehingga The Fed akan kesulitan menurunkan suku bunga secara signifikan. Ancaman kenaikan tarif perdagangan, terutama terhadap China, juga menimbulkan kecemasan di pasar Asia, termasuk Indonesia, mengingat pengalaman dengan GSP (Generalized System of Preferences) pada 2018.
Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, telah mengidentifikasi tiga risiko utama: tekanan terhadap nilai tukar rupiah, potensi arus modal keluar, dan ketidakpastian pasar keuangan. Namun, sentimen positif dari kinerja perusahaan dan penguatan ekonomi domestik diharapkan dapat menjadi penyeimbang.
Haluannews.id Research
[email protected]
Sanggahan: Artikel ini merupakan produk jurnalistik berupa opini Haluannews.id Research. Analisis ini bukan ajakan untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi tertentu. Keputusan investasi sepenuhnya berada di tangan pembaca, dan kami tidak bertanggung jawab atas kerugian atau keuntungan yang timbul.










Tinggalkan komentar