haluannews.id – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menunjukkan performa positif pada pembukaan perdagangan sesi pertama di Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu (30/9/2026). Indeks terpantau bergerak naik tipis sebesar 0,15 persen atau setara dengan 9,18 poin, sehingga berhasil menyentuh level 6.130,88 pada penutupan sesi pertama.

Related Post
Meskipun menunjukkan tren penguatan, pergerakan indeks sepanjang pagi ini tampak masih dibayangi oleh fluktuasi yang cukup dinamis. Sepanjang sesi I, IHSG sempat menyentuh titik tertinggi di level 6.187,05 sebelum akhirnya terkoreksi ke level terendah di angka 6.108,78. Kondisi pasar yang bergerak naik-turun ini mencerminkan sikap investor yang masih bersikap waspada dalam mengambil keputusan transaksi.

Berdasarkan data aktivitas pasar, volume perdagangan tercatat berada di angka 19,57 miliar saham dengan nilai transaksi mencapai Rp6,34 triliun. Sebanyak 1,11 juta transaksi berhasil dilakukan oleh para pelaku pasar. Meski angka transaksi ini tergolong relatif sepi, namun dorongan dari sektor-sektor tertentu mampu menjaga indeks tetap berada di zona hijau.
Sektor konsumer primer menjadi motor utama penggerak IHSG pagi ini dengan kenaikan signifikan sebesar 1,16 persen. Selain itu, sektor barang baku turut memberikan kontribusi positif dengan melesat 0,97 persen, disusul oleh sektor infrastruktur yang tumbuh 0,92 persen. Beberapa saham yang menjadi primadona dan menjadi pendorong utama penguatan indeks antara lain adalah PT Mora Telematika Indonesia Tbk. (MORA), PT Amman Mineral Internasional Tbk. (AMMN), serta PT United Tractors Tbk. (UNTR).
Di balik penguatan tipis ini, para pelaku pasar sebenarnya tengah menanti berbagai sentimen krusial, baik dari domestik maupun global. Salah satu faktor yang menarik perhatian adalah pelemahan harga minyak dunia. Penurunan harga minyak Brent sebesar 2,6 persen ke level US$102,59 per barel dan WTI yang merosot 3,5 persen ke US$89,38 per barel diharapkan dapat meredakan tekanan di pasar saham. Penurunan harga minyak ini dipicu oleh pulihnya ekspor minyak dari Timur Tengah yang meredakan kekhawatiran terkait gangguan pasokan akibat konflik geopolitik.
Namun, optimisme pasar sedikit terganjal oleh pernyataan hawkish dari pejabat Federal Reserve. Presiden Federal Reserve Bank of New York, John Williams, memberikan sinyal bahwa The Fed masih perlu mencermati data ekonomi secara mendalam, namun ada kemungkinan kenaikan suku bunga tambahan diperlukan sebelum akhir tahun 2026. Selain itu, pasar global juga tengah menanti rilis data inflasi PCE dan data pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat yang akan menjadi kompas bagi arah kebijakan moneter AS ke depan.
Menanggapi dinamika pasar yang terjadi, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyatakan bahwa fluktuasi pada IHSG dan nilai tukar rupiah merupakan bagian dari dinamika pasar yang wajar dalam perspektif jangka menengah. Pemerintah bersama Bank Indonesia berkomitmen untuk terus memantau pergerakan nilai tukar guna menjaga stabilitas ekonomi nasional. Di sisi lain, bursa juga telah memperkuat likuiditas dengan mengaktifkan kembali transaksi short selling sejak pertengahan September lalu.










Tinggalkan komentar