Haluannews Ekonomi – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) membuka lembaran tahun 2026 dengan performa yang membanggakan, mencatatkan lonjakan signifikan di sesi perdagangan perdana pada Jumat, 2 Desember 2026. Indeks acuan pasar modal Indonesia ini berhasil menguat sebesar 77,96 poin atau setara 0,9%, menutup sesi pertama di level 8.724,90. Sentimen positif tampak mendominasi, dengan 461 saham bergerak naik, sementara 219 saham melemah, dan 129 saham lainnya stagnan.

Related Post
Aktivitas perdagangan pagi ini menunjukkan geliat pasar yang substansial, di mana nilai transaksi mencapai Rp 11,86 triliun. Sebanyak 25,83 miliar lembar saham berpindah tangan dalam 1,81 juta kali transaksi. Angka kapitalisasi pasar juga turut terkerek, mencapai Rp 16.020 triliun, mengindikasikan peningkatan valuasi keseluruhan pasar.

Optimisme terhadap prospek pasar modal Indonesia di tahun 2026 juga disuarakan oleh Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa. Pada Rabu, 31 Desember 2025, Purbaya menyatakan keyakinannya bahwa IHSG akan mampu menembus level psikologis 10.000, bahkan berpotensi lebih. "10.000 tahun depan? Lebih lah," ujarnya. Keyakinan ini didasari oleh sinergi kebijakan pemerintah yang semakin solid serta fundamental ekonomi Indonesia yang terus membaik.
Sebagai perbandingan, pada penutupan perdagangan Selasa, 30 Desember 2025, IHSG berada di posisi 8.646,94. Kala itu, indeks hanya mengalami kenaikan tipis 2,68 poin atau menguat 0,03%. Nilai transaksi harian mencapai Rp 20,61 triliun, melibatkan 39,54 miliar saham dalam 2,6 juta kali transaksi, dengan 346 saham menguat dan 146 saham tidak bergerak.
Perjalanan IHSG sepanjang tahun 2025 sendiri diwarnai dinamika pasang surut. Meskipun sempat tertekan tajam di awal tahun, indeks berhasil bangkit dan menunjukkan ketahanan luar biasa. Puncaknya, IHSG mencatatkan rekor tertinggi sepanjang masa (All Time High/ATH) sebanyak 24 kali hingga akhir tahun 2025. Salah satu rekor tertinggi tercatat pada 8 Desember 2025 di level 8.711, dengan kapitalisasi pasar mencapai Rp 16.004 triliun.
Untuk perdagangan perdana di tahun 2026 ini, pasar keuangan domestik akan terus mencermati berbagai sentimen, baik dari dalam maupun luar negeri. Investor menantikan rilis data PMI Manufaktur Indonesia periode Desember 2025 oleh S&P Global, yang akan memberikan gambaran kondisi sektor manufaktur. Selain itu, risalah pertemuan Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) The Federal Reserve juga akan menjadi perhatian utama, mengingat dampaknya yang signifikan terhadap pergerakan nilai tukar mata uang dan pasar saham global.
Editor: Rohman










Tinggalkan komentar