IHSG Jeblok! Sentuh 7.000 Lagi?

IHSG Jeblok! Sentuh 7.000 Lagi?

Haluannews Ekonomi – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengawali perdagangan Senin (3/2/2025) dengan penurunan tajam hingga 1%, menyentuh level psikologis 7.000 di angka 7.038,21. Pergerakan ini dipengaruhi sentimen ekonomi domestik dan global, terutama data inflasi dan kebijakan tarif impor baru Amerika Serikat (AS). Nilai transaksi awal sesi I mencapai Rp 642 miliar dengan volume 819 juta lembar saham dan 59.880 kali transaksi.

COLLABMEDIANET

Setelah pekan perdagangan singkat hanya dua hari, pasar menantikan sentimen pekan ini yang diprediksi cukup ramai. Dari dalam negeri, perhatian tertuju pada pengumuman data pertumbuhan ekonomi 2024, Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Januari 2025, dan Indeks Harga Konsumen (IHK) Januari 2025. Sementara itu, secara global, pelaku pasar menantikan data Non-Farm Payroll (NFP) AS dan pidato sejumlah pejabat The Federal Reserve (The Fed), serta dampak kebijakan tarif impor terbaru Donald Trump.

IHSG Jeblok! Sentuh 7.000 Lagi?
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Badan Pusat Statistik (BPS) hari ini akan merilis data inflasi Januari 2025. Kenaikan harga cabai, rokok, dan BBM non subsidi diperkirakan menjadi pendorong utama inflasi. Konsensus 12 institusi yang dihimpun Haluannews.id memproyeksikan inflasi bulanan (mtm) sebesar 0,30% dan inflasi tahunan (yoy) mencapai 1,85%. Inflasi inti diperkirakan berada di 2,27% (yoy). Sebagai perbandingan, inflasi Desember 2024 tercatat 0,44% (mtm) dan 1,57% (yoy).

Andry Asmoro, Kepala Ekonom Bank Mandiri, menjelaskan bahwa kelompok bahan pangan, terutama cabai dan bawang, serta kenaikan harga BBM pada Januari 2025 menjadi faktor pendorong inflasi. Hal senada disampaikan Hosianna Situmorang, Ekonom Bank Danamon, yang menambahkan faktor musiman juga mempengaruhi harga barang.

S&P Global juga akan merilis data PMI Manufaktur Januari 2025. Data PMI manufaktur Desember 2024 menunjukkan angka 51,2, menandai kembali ekspansifnya sektor manufaktur setelah kontraksi selama lima bulan berturut-turut.

Di sisi global, penerapan kenaikan tarif impor oleh Presiden Trump atas barang-barang dari Kanada, Meksiko, dan China mulai Selasa (4/2/2025) menjadi perhatian utama. Tarif 25% untuk impor dari Meksiko dan Kanada, serta 10% untuk produk China, telah memicu kecaman dan rencana retaliasi dari ketiga negara tersebut. China, misalnya, mengecam kebijakan tersebut namun tetap membuka pintu dialog. Kanada dan Meksiko juga menyatakan akan menerapkan tarif pembalasan atas barang-barang AS.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar