haluannews.id – Pasar modal Indonesia kembali diguncang volatilitas tinggi pada perdagangan Rabu (30/9/2026). Setelah sempat menunjukkan performa positif dan melompat tinggi di awal sesi perdagangan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) secara mengejutkan berbalik arah dan mengalami koreksi tajam. Hingga penutupan sesi, indeks tercatat merosot sebesar 0,83 persen atau setara dengan 50,56 poin, sehingga mendarat di level 6.071,14.

Related Post
Pergerakan IHSG sepanjang hari ini tergolong sangat fluktuatif. Para pelaku pasar menyaksikan rentang harga yang cukup lebar atau spread mencapai 116 poin. Dalam perjalanannya, indeks sempat menyentuh titik tertinggi di level 6.187 sebelum akhirnya terperosok ke level terendah di angka 6.071. Meskipun terjadi penurunan yang cukup signifikan, aktivitas transaksi di bursa terpantau masih dalam kategori relatif sepi. Tercatat volume perdagangan mencapai 30,11 miliar saham dengan nilai transaksi total menyentuh angka Rp 14,01 triliun, yang berpindah tangan sebanyak 1,80 juta kali.

Penyebab utama ambruknya IHSG hari ini didorong oleh kinerja sektor konsumer primer yang mengalami tekanan berat dengan penurunan sebesar 2,34 persen. Tak ketinggalan, sektor teknologi juga ikut terseret turun sebesar 0,95 persen. Di sisi lain, sektor energi justru menunjukkan performa yang berbeda dengan mencatatkan kenaikan tipis sebesar 0,75 persen. Beberapa saham berkapitalisasi besar yang menjadi beban berat bagi indeks hari ini antara lain adalah PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO), PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM), dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA).
Kondisi pasar saat ini tengah dibayangi oleh ketidakpastian sentimen, baik dari domestik maupun global. Di pasar internasional, investor sedang menanti rilis data penting dari Amerika Serikat, yakni angka inflasi PCE serta data pertumbuhan ekonomi AS. Selain itu, pernyataan hawkish dari pejabat bank sentral AS turut memicu kecemasan. Presiden Federal Reserve Bank of New York, John Williams, memberikan sinyal bahwa meskipun The Fed masih memiliki ruang untuk mengamati data ekonomi, kemungkinan adanya kenaikan suku bunga tambahan sebelum akhir tahun 2026 tetap terbuka lebar.
Meskipun harga minyak dunia mengalami penurunan—yang secara teori dapat mengurangi tekanan inflasi—hal ini belum cukup kuat untuk menopang IHSG. Harga minyak Brent turun 2,6 persen ke level US$102,59 per barel, sementara WTI merosot 3,5 persen ke US$89,38 per barel akibat meredanya kekhawatiran pasokan minyak global.
Menanggapi dinamika ini, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyatakan bahwa pelemahan IHSG dan nilai tukar rupiah merupakan bagian dari dinamika pasar yang wajar. Ia menekankan pentingnya melihat pergerakan ini dalam perspektif jangka menengah. Pemerintah bersama Bank Indonesia menegaskan akan terus memantau ketat pergerakan nilai tukar guna menjaga stabilitas ekonomi nasional.










Tinggalkan komentar