IHSG Ambrol! Perang Dagang AS Ancam Pasar Saham RI

IHSG Ambrol! Perang Dagang AS Ancam Pasar Saham RI

Haluannews Ekonomi – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup merah membara, ambles lebih dari 1% pada perdagangan Senin (3/2/2025). Sentimen negatif dari kebijakan tarif impor baru Amerika Serikat (AS) menjadi biang keladinya. IHSG akhirnya parkir di posisi 7.030,06, setelah sempat menyentuh level psikologis 6.900. Meskipun sempat memangkas koreksi di akhir perdagangan, penurunan lebih dari 1% tetap tak terhindarkan.

COLLABMEDIANET

Nilai transaksi mencapai Rp 11 triliun, melibatkan 15 miliar saham yang berpindah tangan sebanyak 1,2 juta kali. Dari 743 saham yang diperdagangkan, 168 saham menguat, 461 melemah, dan 174 stagnan. Sektor kesehatan, bahan baku, dan properti menjadi sektor paling tertekan, masing-masing mengalami penurunan 2,68%, 1,76%, dan 1,75%.

IHSG Ambrol! Perang Dagang AS Ancam Pasar Saham RI
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Ancaman perang dagang kembali menghantui pasar global. Presiden AS Donald Trump resmi menerapkan kenaikan tarif impor untuk produk dari China, Kanada, dan Meksiko, yang mulai berlaku Selasa besok. Tarif 25% dikenakan pada impor dari Meksiko dan Kanada, sementara produk China dikenai bea masuk 10%.

Langkah Trump ini langsung disambut kecaman dari China, yang tetap membuka peluang negosiasi. Kanada dan Meksiko pun tak tinggal diam, mengancam akan membalas dengan tarif serupa terhadap produk-produk AS. Perdana Menteri Kanada, Justin Trudeau, bahkan telah mengumumkan tarif balasan 25% untuk sejumlah barang AS. Presiden Meksiko, Claudia Sheinbaum, melalui akun X-nya, juga menyatakan akan menerapkan tarif pembalasan, meskipun berharap dialog dapat dilakukan.

Potensi perang dagang kali ini dinilai lebih besar daripada era Trump sebelumnya (2017-2021). Jika eskalasi terus terjadi, gejolak pasar keuangan global tak terhindarkan, dan berdampak signifikan pada pasar keuangan Indonesia, termasuk IHSG.

Ironisnya, di tengah gejolak eksternal, Indonesia justru mengalami deflasi pada Januari 2025. Ini merupakan deflasi pertama di tahun 2025, setelah terakhir kali terjadi pada September 2024. Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti, menyebut penurunan tarif listrik sebagai penyumbang utama deflasi. Data ini bertolak belakang dengan proyeksi konsensus pasar yang memperkirakan inflasi bulanan sebesar 0,30% dan inflasi tahunan 1,85%.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar