Haluannews Ekonomi – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali menunjukkan pelemahan di akhir perdagangan sesi I Jumat (24/1/2025), setelah sempat menghijau di awal sesi. Nilai transaksi sesi I mencapai Rp 6,5 triliun, melibatkan 10,4 miliar saham yang diperdagangkan sebanyak 687.889 kali. Dari 800-an saham yang diperdagangkan, 220 saham menguat, 312 melemah, dan sisanya stagnan. Sektor infrastruktur menjadi penekan terbesar IHSG hari ini, mencapai 1,12%. PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) memimpin penurunan dengan tekanan 16,3 indeks poin, diikuti PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) sebesar 5,8 indeks poin, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) 3,3 indeks poin, dan PT Bayan Resources Tbk (BYAN) 2,6 indeks poin.

Related Post
Pergerakan IHSG yang berbalik arah ini sebenarnya sudah terlihat sejak penutupan perdagangan kemarin. Analis menduga, investor mulai melakukan aksi ambil untung. Jelang libur panjang pekan depan, IHSG diprediksi akan cukup volatil. Sejumlah sentimen domestik dan global diperkirakan akan memengaruhi pasar, mulai dari World Economic Forum (WEF) di Davos, Rapat Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), efisiensi belanja pemerintah, hingga pernyataan kontroversial Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.

Dalam pidatonya di WEF 2025, Trump kembali menyerang The Federal Reserve (The Fed), mendesak penurunan suku bunga secara global. Pernyataan ini menambah ketidakpastian pasar, mengingat hubungan yang kurang harmonis antara Trump dan Ketua The Fed, Jerome Powell. Di sisi lain, instruksi Presiden RI Prabowo Subianto terkait efisiensi anggaran pemerintah senilai Rp 306,69 triliun juga menjadi sorotan. Meskipun kebijakan ini bertujuan untuk memperkuat daya tahan ekonomi dan mendukung program prioritas, dampaknya terhadap pertumbuhan ekonomi masih perlu dikaji lebih lanjut. Pemotongan anggaran berpotensi menekan belanja negara, namun di sisi lain juga dapat meningkatkan kepercayaan investor terhadap pengelolaan fiskal Indonesia.
Kombinasi kebijakan domestik dan sentimen global akan menentukan arah IHSG ke depan. Meskipun pemerintah berupaya memperkuat fundamental ekonomi melalui efisiensi fiskal dan kebijakan DHE, tantangan eksternal seperti ketidakpastian kebijakan perdagangan AS dan tekanan dolar AS tetap menjadi ancaman. Sinergi antara pemerintah, pelaku pasar, dan emiten sangat krusial untuk menjaga stabilitas pasar dan mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Haluannews.id Research
[email protected]
Sanggahan: Artikel ini merupakan opini Haluannews.id Research. Analisis ini bukan ajakan untuk membeli, menahan, atau menjual produk/sektor investasi. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pembaca.










Tinggalkan komentar