Hormuz Memanas, Ekonomi RI Terancam Inflasi Gila-gilaan?

Hormuz Memanas, Ekonomi RI Terancam Inflasi Gila-gilaan?

Haluannews Ekonomi – Konflik geopolitik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terus menjadi episentrum ketidakpastian yang mengguncang pasar keuangan global. Potensi eskalasi konflik, terutama dengan ancaman penutupan Selat Hormuz, jalur vital bagi distribusi minyak dunia, dapat memicu lonjakan harga komoditas energi dan disrupsi rantai pasok global. Konsekuensinya, bayangan inflasi yang meroket dan perlambatan ekonomi global semakin nyata.

COLLABMEDIANET

Lantas, bagaimana skenario ini akan memengaruhi arah kebijakan moneter bank sentral utama seperti Federal Reserve (The Fed) dan Bank Indonesia (BI)? Lebih jauh lagi, apa implikasinya terhadap stabilitas pasar modal Indonesia dan pergerakan nilai tukar Rupiah?

Hormuz Memanas, Ekonomi RI Terancam Inflasi Gila-gilaan?
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Dalam sebuah dialog eksklusif di program Power Lunch Haluannews.id, Chief Executive Officer Sucor Sekuritas, Bernadus Wijaya, mengupas tuntas dampak krusial dari gejolak Timur Tengah ini.

Bernadus Wijaya menyoroti bahwa Selat Hormuz adalah chokepoint strategis yang dilalui sekitar 20% pasokan minyak dunia. Jika akses melalui selat ini terganggu, pasokan minyak global akan terhambat drastis, mendorong harga minyak mentah melonjak ke level yang belum pernah terjadi sebelumnya. Kenaikan harga minyak ini bukan hanya akan membebani biaya produksi dan transportasi, tetapi juga memicu inflasi impor di banyak negara, termasuk Indonesia.

"Ancaman inflasi yang tinggi ini menempatkan bank sentral di persimpangan jalan," ujar Bernadus. "The Fed akan menghadapi dilema berat antara menekan inflasi dengan kenaikan suku bunga yang berisiko memicu resesi, atau menahan suku bunga namun membiarkan inflasi terus menggerus daya beli."

Situasi serupa juga dihadapi Bank Indonesia. Meskipun inflasi domestik cenderung terkendali, lonjakan harga minyak global akan memicu inflasi yang diimpor. Bernadus memprediksi bahwa di tengah tekanan global ini, Bank Indonesia kemungkinan besar akan memilih untuk menahan suku bunga acuannya. Keputusan ini diambil untuk menjaga stabilitas ekonomi domestik, mendukung pertumbuhan, sekaligus memitigasi risiko gejolak pasar keuangan yang lebih besar.

Dampak terhadap pasar modal Indonesia dan nilai tukar Rupiah juga tidak bisa diabaikan. Ketidakpastian global cenderung mendorong investor mencari aset yang lebih aman (safe haven), yang berpotensi memicu arus modal keluar (capital outflow) dari pasar berkembang seperti Indonesia. Hal ini dapat menekan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan menyebabkan pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS.

"Investor perlu mencermati perkembangan geopolitik ini dengan seksama. Volatilitas akan menjadi keniscayaan di pasar keuangan," tambah Bernadus. "Kebijakan BI untuk menahan suku bunga diharapkan dapat memberikan bantalan bagi Rupiah, namun tekanan eksternal akan tetap menjadi tantangan serius."

Secara keseluruhan, perang di Timur Tengah dan ancaman terhadap Selat Hormuz menciptakan lanskap ekonomi global yang penuh risiko. Para pembuat kebijakan dan pelaku pasar di Indonesia dituntut untuk tetap waspada dan adaptif dalam menghadapi gelombang ketidakpastian yang mungkin datang.

Editor: Rohman

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar