Haluannews Ekonomi – Hapsoro, salah satu penerima manfaat akhir dari PT Bukit Ulluwatu Villa Tbk (BUVA), melakukan aksi korporasi signifikan dengan melepas 17 juta lembar sahamnya. Transaksi yang terjadi pada 11 Maret 2026 ini diperkirakan meraup dana segar hingga Rp 27,2 miliar bagi Hapsoro.

Related Post
Penjualan ini mengubah struktur kepemilikan Hapsoro di BUVA, dari sebelumnya 60,85 juta saham atau 0,25% menjadi 43,85 juta saham atau 0,18%. Menariknya, transaksi tersebut dieksekusi pada harga Rp 1.600 per saham, jauh di atas harga penutupan pasar BUVA pada hari yang sama, yakni Rp 1.070, meskipun saham BUVA sempat menguat 0,94% dalam rentang perdagangan Rp 1.060-Rp 1.135. Hapsoro sendiri memiliki saham BUVA secara langsung dan juga melalui PT Nusantara Utama Investama dengan porsi 61,64%.

Di tengah manuver Hapsoro, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) justru mengalami tekanan hebat. Menjelang penutupan sesi kedua perdagangan, IHSG anjlok 3% ke level 7.141,46 pada pukul 15.20 WIB. Data Haluannews.id menunjukkan, mayoritas saham tertekan dengan 671 saham melemah, hanya 103 yang menguat, dan 184 stagnan. Total nilai transaksi mencapai Rp 10,98 triliun, melibatkan 21,51 miliar saham dalam 1,33 juta kali transaksi.
Koreksi tajam IHSG ini tak lepas dari sentimen negatif global yang dipicu oleh kekhawatiran pasar akan eskalasi konflik di Timur Tengah, khususnya antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel. Kecemasan terhadap pasokan minyak mentah global yang berpotensi terganggu telah memicu lonjakan harga komoditas energi tersebut.
Dalam waktu kurang dari dua pekan, harga minyak telah meroket lebih dari 38%. Minyak mentah Brent menembus US$ 100,72 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) mencapai US$ 95,37 per barel. Lonjakan ini dipicu oleh serangan terhadap dua kapal tanker dan fasilitas pelabuhan minyak di perairan Irak, yang sontak menimbulkan kekhawatiran serius terhadap keamanan navigasi di Selat Hormuz, jalur vital pengiriman minyak dunia. Militer Iran bahkan melontarkan peringatan keras bahwa harga minyak dapat melonjak hingga US$ 200 per barel jika ketegangan terus memanas.
Namun, di tengah operasi militer skala besar yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel, intelijen AS mengindikasikan bahwa struktur kepemimpinan pemerintah Iran saat ini masih kokoh dan jauh dari risiko keruntuhan. Laporan tersebut menegaskan bahwa rezim di Teheran tetap memegang kendali penuh atas masyarakatnya. Posisi pemimpin tertinggi juga telah digantikan oleh putra Khamenei, Mojtaba, guna menjaga stabilitas internal dan transisi kekuasaan. Di sisi lain, tawaran bantuan pemberontakan dari kelompok milisi Kurdi Iran sempat ditolak oleh Presiden Donald Trump, karena intelijen meragukan kapasitas persenjataan mereka.
Dalam pemaparan publik pertamanya sejak terpilih, Mojtaba menegaskan bahwa Selat Hormuz harus tetap ditutup. Langkah ini strategis untuk menjadikannya alat penekan terhadap musuh-musuh Iran. Situasi geopolitik yang memanas ini menjadi faktor dominan yang menyeret kinerja pasar saham global, termasuk IHSG, ke zona merah.
Editor: Rohman










Tinggalkan komentar