Investor Wajib Tahu! Emas & Perak Cetak Rekor, Analis: Ada Kejanggalan!

Related Post
Jakarta, 29 Januari 2026 – Pasar komoditas global kembali dihebohkan dengan lonjakan harga emas dan perak yang fantastis, menembus rekor tertinggi sepanjang sejarah. Fenomena ini sontak memicu perdebatan sengit di kalangan ekonom dan analis pasar mengenai apakah kenaikan ini masih mencerminkan fundamental ekonomi yang solid atau justru mengindikasikan adanya anomali pasar yang didorong spekulasi berlebihan.

Pada perdagangan Kamis (29/1/2026), harga emas spot melonjak lebih dari 3%, mencapai level US$5.501,18 atau setara Rp86,4 juta per ons troi. Sementara itu, kontrak berjangka emas untuk pengiriman Februari juga tidak kalah agresif, ditutup di US$5.568,66 (Rp87,4 juta) per ons, berdasarkan data LSEG. Perak pun tak mau ketinggalan. Logam putih ini mencatatkan kenaikan signifikan lebih dari 2%, dengan harga spot menembus US$119,3 atau sekitar Rp1,87 juta per ons. Kontrak berjangka perak AS untuk Maret bahkan melonjak hampir 5% ke US$118,73 per ons. Perak bahkan sempat menyentuh US$117 per ons untuk pertama kalinya, setelah sebelumnya mencatat kenaikan lebih dari 145% sepanjang tahun 2025 dan sekitar 65% sejak awal tahun berjalan ini.
Fenomena lonjakan harga ini tak hanya terbatas pada emas dan perak. Logam mulia lain seperti platinum dan paladium, bahkan beberapa logam dasar serta mineral langka, turut merasakan imbas kenaikan serupa. Ed Yardeni, Presiden Yardeni Research, yang telah memprediksi kenaikan harga emas sejak awal tahun lalu, mengungkapkan pandangannya kepada Haluannews.id. "Prediksi tersebut kini telah meluas menjadi kenaikan harga di seluruh spektrum logam mulia, banyak logam dasar, dan mineral langka," ujarnya.
Sejumlah analis berpendapat, reli ini didorong oleh kuatnya permintaan investor yang mencari aset lindung nilai (safe haven) di tengah ketegangan geopolitik yang memanas, lonjakan utang pemerintah global, serta ketidakpastian arah kebijakan suku bunga dan nilai tukar mata uang. Pembelian berkelanjutan oleh bank sentral dunia juga menjadi pilar penopang harga emas, sementara perak mendapat dukungan tambahan dari meningkatnya permintaan industri, terutama dari sektor tenaga surya dan elektronik.
Namun, di sisi lain, volatilitas ekstrem yang terjadi memicu kecemasan. Beberapa pihak menilai pergerakan harga saat ini lebih banyak dipengaruhi oleh derasnya arus likuiditas global ketimbang dinamika penawaran dan permintaan fisik yang sesungguhnya. "Saya akan menyebut pasar logam mulia sebagai pasar yang kacau, mengingat tingkat volatilitas yang belum pernah terjadi sebelumnya," kata Nicky Shiels dari MKS PAMP.
Pandangan skeptis serupa disampaikan oleh Maximilian Tomei, CEO Galena Asset Management. Menurutnya, lonjakan harga logam mulia saat ini tidak sepenuhnya mencerminkan fundamental pasar. "Pergerakan ini lebih banyak dipicu oleh pelemahan nilai mata uang global ketimbang murni didorong permintaan fisik logam," tegas Tomei, seraya menambahkan bahwa fundamental pasar saja tidak memadai untuk menjelaskan lonjakan harga hingga ratusan persen. Ia juga menyoroti kelebihan likuiditas global sebagai faktor kunci. Ketika valuasi aset lain dianggap terlalu tinggi, sebagian besar dana mengalir ke emas dan perak sebagai "tempat parkir modal" sementara, bukan karena perubahan mendasar pada pasokan atau permintaan.
Guy Wolf dari Marex menambahkan bahwa pasar perak dan platinum yang relatif kecil lebih rentan terhadap arus masuk modal spekulatif, sehingga harga mudah terdorong jauh melampaui fundamentalnya. Keterbatasan kapasitas produksi membuat pasokan fisik sulit mengejar lonjakan permintaan, meningkatkan risiko koreksi tajam ketika likuiditas mulai menyusut.
Meski demikian, tidak semua analis sepakat bahwa pasar telah sepenuhnya "rusak". Gautam Varma dari V2 Ventures menyebut lonjakan ini mencerminkan besarnya modal spekulatif yang masuk ke pasar. "Modal tersebut mungkin hadir karena alasan yang berbeda dari permintaan dan penawaran fundamental," ujarnya, mengisyaratkan adanya faktor-faktor non-tradisional yang kini mendominasi pergerakan harga.
Editor: Rohman










Tinggalkan komentar