Haluannews Ekonomi –

Haluannews Ekonomi -

Danantara Guncang BEI: Strategi Baru Demi Cuan & Transparansi!

COLLABMEDIANET

Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara siap menjadi pemain kunci di PT Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan rencana mengakuisisi saham pasca-demutualisasi. Langkah strategis ini, menurut Chief Investment Officer (CIO) Danantara, Pandu Sjahrir, tidak akan menimbulkan konflik kepentingan atau tumpang tindih peran dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) maupun BEI. Sebaliknya, intervensi Danantara sebagai pemegang saham justru diharapkan memperkuat fundamental pasar modal Indonesia.

Haluannews Ekonomi -
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

"BEI adalah bursa, tempat run for profit, sedangkan tugas Danantara menjadi shareholder. Adapun bila demutualisasi terjadi, kita akan jadi pemain pasar," ungkap Pandu kepada Haluannews.id baru-baru ini. Ia menjelaskan bahwa demutualisasi BEI merupakan reformasi fundamental yang mengubah statusnya dari organisasi berbasis keanggotaan (Self Regulatory Organization/SRO) menjadi entitas perusahaan yang dapat dimiliki oleh publik atau pihak lain. Transformasi ini lumrah terjadi di bursa-bursa global seperti Hong Kong, Australia, dan Singapura, bertujuan menjadikan bursa lebih profesional dan adaptif.

Pandu menegaskan, peran OJK sebagai regulator jelas berbeda dengan Danantara sebagai pemegang saham yang berorientasi mencari keuntungan. Investasi di pasar modal juga menjadi strategi alokasi aset untuk menjaga likuiditas, yang pada gilirannya akan menarik lebih banyak investor dan menciptakan lapangan kerja baru. Hal ini sejalan dengan misi Danantara yang fokus pada penciptaan tenaga kerja dan pengembangan bisnis di Indonesia.

Transparansi dan Akuntabilitas Pasar Modal Tanah Air Jadi Prioritas

Danantara sangat mendukung transformasi BEI agar lebih relevan di kancah global, dengan syarat pasar yang lebih likuid dan transparan. Pandu menyoroti keputusan Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang membekukan seluruh peningkatan indeks untuk saham-saham Indonesia, akibat kekhawatiran terkait transparansi free float, sebagai "peringatan dan pemantik reformasi" yang harus ditanggapi serius.

"Kita harus bisa menyeimbangkan agar tetap issuer friendly dan juga investor friendly. Pada akhirnya, regulator harus cari jalan tengah," tegas Pandu. Ia mengapresiasi respons cepat dari regulator yang telah memberikan persepsi positif bagi investor, termasuk Danantara. Likuiditas pasar sangat vital bagi investor institusional, karena pada akhirnya itulah yang akan mendorong performa dan daya tarik bursa efek. Danantara sendiri berinvestasi di public market untuk menjaga likuiditas, sementara di private market fokus pada penciptaan bisnis baru.

Masukan Moody’s: Pengingat Penting untuk Danantara

Selain isu MSCI, Pandu juga menilai masukan dari lembaga pemeringkat Moody’s Ratings sebagai hal yang valid dan konstruktif. "Bagi saya itu valid, karena itu concern mereka. Apalagi saat mereka melakukan reviu, Danantara masih sangat muda, baru enam-tujuh bulan," kata Pandu. Ia melihat masukan ini sebagai pendorong bagi Danantara untuk membuktikan diri melalui kerja nyata dan aksi konkret di masa depan.

Dampak dari masukan Moody’s dianggap positif, terutama karena Danantara juga mengelola dana dari luar negeri, sehingga akuntabilitas dan prediktabilitas menjadi krusial bagi negara dan para pemangku kepentingan. Moody’s, yang sebelumnya mengubah outlook peringkat Pemerintah Indonesia menjadi negatif dari stabil, menginginkan konsistensi agar pasar tidak mengalami kebingungan. "Ini pengingat yang baik, dan tugas kita menyatukan suara," pungkas Pandu, menekankan pentingnya respons kolektif terhadap tantangan ini.

Editor: Rohman

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar