Geger Rupiah Diam Dolar AS Kokoh di 17 Ribu

Geger Rupiah Diam Dolar AS Kokoh di 17 Ribu

haluannews.id – Mata uang kebanggaan Indonesia, Rupiah, memulai perdagangan Jumat (17/7/2026) dengan pergerakan yang cenderung datar terhadap dominasi Dolar Amerika Serikat (AS). Berdasarkan data terkini dari Refinitiv, nilai tukar Rupiah terpantau tak bergeming, tetap bertahan di level Rp17.980 per Dolar AS. Posisi ini dipertahankan setelah sebelumnya Rupiah sempat mencatat penguatan signifikan, menembus batas psikologis Rp18.000 per Dolar AS.

COLLABMEDIANET

Di sisi lain, Indeks Dolar AS (DXY), yang menjadi barometer kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, juga menunjukkan stabilitas. Pada pukul 09.00 WIB, DXY berada di angka 100,753, melanjutkan tren penguatan tipis 0,28% dari sesi perdagangan sebelumnya.

Geger Rupiah Diam Dolar AS Kokoh di 17 Ribu
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Pergerakan Rupiah dan Dolar AS hari ini tak lepas dari bayang-bayang sentimen eksternal yang kompleks. Dinamika Dolar AS di pasar global serta perkembangan terbaru konflik geopolitik di Timur Tengah menjadi sorotan utama yang memengaruhi arah pasar.

Dolar AS sendiri, meski stabil pada perdagangan Jumat, justru berada di jalur pelemahan jika dilihat secara mingguan. Hal ini dipicu oleh data inflasi AS yang ternyata lebih rendah dari perkiraan, memangkas ekspektasi pelaku pasar terhadap kenaikan suku bunga oleh bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed), dalam waktu dekat. Meskipun data lain menunjukkan ketahanan ekonomi AS, terutama di sektor ketenagakerjaan, para ekonom cenderung memprediksi The Fed akan menahan suku bunga pada pertemuan bulan ini menyusul melandainya inflasi konsumen di bulan Juni.

Namun, para pejabat The Fed tetap berhati-hati. Mereka menekankan bahwa perbaikan inflasi baru terlihat dalam satu bulan, setelah sebelumnya cenderung meningkat selama beberapa waktu. Bahkan, Wakil Ketua The Fed, Philip Jefferson, tidak menutup kemungkinan kenaikan suku bunga jika inflasi tidak menunjukkan perbaikan signifikan dalam waktu dekat.

Berdasarkan pantauan CME FedWatch Tool, probabilitas kenaikan suku bunga The Fed pada Juli kini merosot drastis menjadi 11%, jauh di bawah angka 25% pada pekan sebelumnya. Pasar juga memperkirakan kenaikan suku bunga hanya sekitar 26 basis poin hingga Desember, lebih rendah dari proyeksi 44 basis poin di awal pekan ini.

Di tengah ketidakpastian ekonomi, sentimen pasar juga dibayangi oleh kembali memanasnya ketegangan antara Iran dan AS. Kedua negara dilaporkan saling melancarkan serangan dalam sepekan terakhir, mengancam runtuhnya kesepakatan gencatan senjata yang baru tercapai bulan lalu. Eskalasi ini memicu lonjakan permintaan terhadap aset-aset aman seperti Dolar AS, sekaligus mendorong harga minyak mendekati level tertinggi dalam sebulan terakhir. Kini, perhatian pelaku pasar tertuju pada pidato Presiden AS Donald Trump, yang diharapkan dapat memberikan petunjuk baru mengenai arah konflik tersebut.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar