Haluannews Ekonomi – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa penurunan prospek peringkat utang Indonesia oleh lembaga pemeringkat global seperti Fitch dan Moody’s ternyata tidak memberikan dampak signifikan terhadap pergerakan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN). Menurut Purbaya, revisi outlook dari stabil menjadi negatif oleh kedua lembaga tersebut hanya memicu kenaikan imbal hasil SBN tenor 10 tahun sebesar 2 basis poin (bps) atau setara 0,02%.

Related Post
"Dampak dari perubahan outlook saja tidak terlalu besar. Kenaikan imbal hasil surat utang 10 tahun hanya sekitar 2 bps," ungkap Purbaya saat ditemui di kantornya, Jakarta, pada Jumat (6/3/2026), seperti dilansir oleh Haluannews.id.

Purbaya justru menyoroti faktor lain sebagai pemicu utama lonjakan imbal hasil SBN yang lebih substansial. Ia menyebutkan bahwa eskalasi konflik di Timur Tengah, khususnya perang antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel, merupakan biang kerok di balik kenaikan signifikan yield SBN. Ketika ketegangan geopolitik tersebut memuncak, imbal hasil SBN tenor 10 tahun melonjak drastis hingga 30 basis poin, atau setara 0,3%.
Meskipun pasar SBN menghadapi tekanan, Purbaya meyakinkan bahwa pemerintah memiliki strategi untuk mengelola imbal hasil surat utang. Pengendalian likuiditas di pasar domestik menjadi kunci untuk menjaga stabilitas dan memastikan tekanan tidak terlalu tinggi. "Kementerian Keuangan akan senantiasa mengelola kas negara untuk memastikan likuiditas di pasar tetap memadai," jelasnya.
Namun demikian, data pasar menunjukkan adanya tekanan yang nyata. Imbal hasil obligasi pemerintah Indonesia (SBN) untuk tenor 10 tahun tercatat mencapai level tertinggi dalam enam bulan terakhir. Fenomena ini terjadi seiring dengan meningkatnya aksi jual investor di tengah tingginya tensi geopolitik global, khususnya di Timur Tengah.
Berdasarkan data Refinitiv, pada penutupan perdagangan Selasa (4/3/2026), yield SBN tenor 10 tahun Indonesia melonjak 1,14% ke level 6,552%. Angka ini naik signifikan dari posisi penutupan sehari sebelumnya di 6,478%, yang berarti terjadi kenaikan sekitar 7,4 basis poin hanya dalam satu hari perdagangan. Level penutupan tersebut juga menjadi yang tertinggi sejak Agustus 2025. Jika ditarik lebih jauh, tekanan juga terlihat jelas dibandingkan penutupan pekan sebelumnya. Pada Jumat (27/2/2026), yield SBN 10 tahun masih berada di level 6,411%. Ini mengindikasikan bahwa hanya dalam dua sesi perdagangan pertama di pekan tersebut, imbal hasil telah melonjak sekitar 14,1 basis poin. Kenaikan yield ini secara fundamental mencerminkan penurunan harga obligasi, menandakan bahwa investor cenderung melepas kepemilikan surat utang pemerintah di tengah meningkatnya persepsi risiko.
Editor: Rohman










Tinggalkan komentar