Haluannews Ekonomi – Pasar modal Indonesia tengah menjadi sorotan tajam media internasional menyusul anjloknya nilai kapitalisasi pasar hingga mencapai US$80 miliar, atau setara dengan Rp1.336 triliun, hanya dalam kurun waktu dua hari perdagangan. Fenomena ini memicu kekhawatiran serius di kalangan investor global dan domestik.

Related Post
Laporan dari kantor berita terkemuka, Reuters, dengan judul "Indonesian authorities attempt to soothe worries after $80 billion market rout," menyoroti pemicu utama aksi jual besar-besaran ini. Kekhawatiran tersebut berawal dari peringatan yang dikeluarkan oleh penyedia indeks global MSCI. MSCI mengemukakan isu-isu terkait kepemilikan saham dan transparansi perdagangan di pasar modal Indonesia, yang kemudian memicu gelombang arus keluar modal asing secara signifikan dan menekan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hingga sempat merosot lebih dari 8%.

Tekanan terhadap sektor keuangan Tanah Air tidak hanya bersumber dari isu transparansi. Kekhawatiran investor global juga meningkat seiring dengan spekulasi mengenai arah kebijakan fiskal di bawah kepemimpinan Presiden terpilih Prabowo Subianto. Potensi pelebaran defisit anggaran serta peran negara yang lebih besar di sektor keuangan menjadi poin perhatian, yang turut berdampak pada pelemahan nilai tukar rupiah mendekati rekor terendah sepanjang masa terhadap dolar AS.
Menanggapi gejolak pasar ini, otoritas keuangan Indonesia bergerak cepat dengan serangkaian langkah mitigasi. Regulator, dalam upaya menjawab kekhawatiran MSCI, meningkatkan ketentuan free float emiten menjadi 15%. Kebijakan ini terbukti membantu IHSG memangkas sebagian besar penurunannya, sehingga pada penutupan perdagangan, indeks hanya melemah sekitar 1%, setelah sehari sebelumnya sempat terjun bebas 7,4%. Sementara itu, rupiah tercatat melemah tipis 0,27% dan diperdagangkan di level Rp16.745 per dolar AS.
Josua Pardede, Kepala Ekonom PermataBank, dalam pernyataannya kepada Reuters, Kamis (29/1/2026), menjelaskan bahwa penurunan yang terjadi dalam dua hari terakhir lebih mencerminkan penyesuaian risiko akses pasar, bukan fundamental ekonomi yang memburuk. Senada, Ketua Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Mahendra Siregar, mengonfirmasi bahwa komunikasi dengan MSCI berjalan positif. "Kami akan memperbaiki perhitungan free float dan meningkatkan transparansi kepemilikan saham," tegas Mahendra, sembari menunggu respons resmi atas langkah-langkah yang telah diusulkan.
Meskipun demikian, bayang-bayang tekanan masih membayangi pasar saham Indonesia. Dua raksasa investasi global, Goldman Sachs dan UBS, telah menurunkan rekomendasi mereka untuk saham-saham di Indonesia. Goldman Sachs bahkan memperkirakan potensi arus keluar modal hingga US$7,8 miliar atau sekitar Rp130 triliun apabila terjadi penurunan peringkat investasi. Data dari LSEG menunjukkan bahwa sepanjang tahun 2025, investor asing telah mencatatkan penjualan bersih saham Indonesia senilai Rp13,96 triliun atau sekitar US$834 juta, sebuah angka terburuk sejak tahun 2020. Situasi ini mengindikasikan bahwa kepercayaan investor asing masih perlu dipulihkan secara berkelanjutan.
Editor: Rohman










Tinggalkan komentar