Gebyar Bursa! IHSG Melonjak, BUMI Jadi Primadona Pasar

Gebyar Bursa! IHSG Melonjak, BUMI Jadi Primadona Pasar

Haluannews Ekonomi – Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hari ini menunjukkan geliat positif yang signifikan, melonjak 1% pada perdagangan pagi, Selasa (10/2/2026). Hingga pukul 09.30 WIB, indeks acuan pasar modal Indonesia ini berhasil menguat 83,89 poin, bertengger di level 8.115,76. Di tengah euforia tersebut, saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) menjadi bintang lapangan, mencatatkan volume transaksi fantastis dan menjadi incaran utama investor.

COLLABMEDIANET

Data perdagangan yang dihimpun Haluannews.id menunjukkan dominasi saham-saham yang menguat mencerminkan sentimen positif yang merata. Sebanyak 479 saham berhasil naik, sementara 142 saham melemah, dan 337 saham lainnya tidak bergerak. Aktivitas transaksi juga cukup ramai, dengan nilai mencapai Rp 4,54 triliun, melibatkan perputaran 10,29 miliar saham dalam 550.000 kali transaksi. Imbasnya, kapitalisasi pasar turut terkerek naik menjadi Rp 14.692 triliun.

Gebyar Bursa! IHSG Melonjak, BUMI Jadi Primadona Pasar
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Saham emiten batu bara raksasa, BUMI, mencatatkan volume transaksi fantastis hingga Rp 1,5 triliun pada sesi pagi ini. Kenaikan 6,67% ke level Rp 256 per saham ini mengindikasikan minat investor yang sangat tinggi, menjadikan BUMI sebagai saham paling aktif diperdagangkan.

Namun, di balik optimisme pasar, pelaku pasar tetap mencermati sejumlah sentimen krusial, baik dari dalam maupun luar negeri. Salah satu isu paling menonjol adalah peringatan serius dari Morgan Stanley Capital International (MSCI) terkait posisi Indonesia. Pasar modal domestik terancam turun kelas dari kategori Emerging Markets ke Frontier Markets jika standar pasar dinilai tidak lagi memenuhi kriteria global. Risiko downgrade ini menjadi alarm bahaya, mengingat status Emerging Market adalah kunci masuknya arus modal asing pasif dalam jumlah triliunan Rupiah ke pasar saham tanah air, yang masih sangat bergantung pada aliran dana dari indeks global seperti MSCI.

Menyikapi ancaman tersebut, pemerintah dan regulator pasar modal bergerak cepat dengan melakukan perombakan besar-besaran. Perubahan struktur terjadi mulai dari jajaran Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) hingga direksi Bursa Efek Indonesia (BEI). Langkah strategis ini bertujuan untuk merevitalisasi visi dan eksekusi kebijakan yang lebih agresif dan dinamis demi mempertahankan kredibilitas pasar modal Indonesia di mata investor global.

Sebagai tindak lanjut, serangkaian kebijakan baru yang lebih ketat pun diimplementasikan. Salah satu kebijakan strategis adalah kenaikan free float menjadi 15%, naik dua kali lipat dari aturan sebelumnya yang hanya 7,5%. Langkah ini krusial untuk meningkatkan likuiditas riil pasar agar sesuai dengan standar tinggi yang ditetapkan MSCI. Aspek transparansi juga diperkuat; regulator kini mewajibkan pembukaan data kepemilikan saham hingga porsi 1%, jauh lebih transparan dibandingkan aturan lama yang hanya mewajibkan pelaporan untuk kepemilikan 5% ke atas. Tindakan ini tidak hanya memenuhi standar transparansi global, tetapi juga melindungi investor ritel dari praktik manipulasi pasar atau "saham gorengan" yang kerap bersembunyi di balik kepemilikan semu.

Selain dinamika pasar modal, arah kebijakan bank sentral global dan domestik juga menjadi sorotan. Setelah periode pengetatan yang panjang di tahun 2024 untuk meredam inflasi di AS, Bank Indonesia (BI) dan The Federal Reserve (The Fed) kini kompak memasuki fase pelonggaran suku bunga di tahun 2026. Data pasar per Januari 2026 mencatat Fed Funds Rate telah turun ke level 3,75%, sementara BI Rate menyesuaikan diri untuk tetap di level 4,75% akibat pelemahan Rupiah yang terjadi di pasar valas. Selisih suku bunga sebesar 100 basis poin (1,00%) ini dianggap masih cukup atraktif dan kompetitif untuk menjaga daya tarik aset keuangan domestik bagi investor asing, sekaligus memelihara stabilitas nilai tukar Rupiah.

Penurunan suku bunga acuan ini diharapkan segera berdampak positif pada sektor riil. Dengan biaya dana (cost of fund) yang lebih rendah bagi perbankan, diharapkan penyaluran kredit dan ekspansi bisnis dapat terakselerasi. Pada akhirnya, ini akan menjadi motor penggerak percepatan pertumbuhan ekonomi nasional, dengan target ambisius mencapai 8% PDB pada tahun ini.

Editor: Rohman

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar