Haluannews Ekonomi – Pasar komoditas global kembali diwarnai lonjakan harga emas yang signifikan, dipicu oleh meningkatnya ketidakpastian geopolitik. Ketegangan di Timur Tengah dan kembali memanasnya perang dagang menjadi pendorong utama fenomena ini. Pada perdagangan Rabu, 25 Februari 2026, harga emas dunia tercatat naik 0,44%, mencapai level USD5.170,63 per troy ons, mencetak rekor baru yang menarik perhatian investor dan pelaku pasar.

Related Post
Kilauan harga emas yang terus melonjak ini tentu memberikan dampak langsung pada sektor industri perhiasan. Naomi Julia Soegianto, Founder & President Director PT Nafiri Jaffa Sentosa, mengungkapkan bahwa pergerakan harga emas yang didorong oleh ketidakpastian global membuat daya beli masyarakat terhadap perhiasan emas cenderung melemah. Konsumen menjadi lebih selektif dalam pengeluaran untuk barang mewah di tengah kondisi ekonomi yang fluktuatif.

Menyikapi tantangan tersebut, industri perhiasan tidak tinggal diam. Naomi menjelaskan bahwa kunci untuk tetap relevan di pasar adalah dengan menghadirkan inovasi. Strategi yang ditempuh meliputi pengembangan desain yang mengikuti tren terkini, namun dengan penyesuaian pada gramasi (berat) dan kadar emas yang lebih kecil. Langkah ini menjadi siasat cerdas untuk menjaga agar produk perhiasan tetap terjangkau tanpa mengorbankan estetika dan daya tarik bagi konsumen.
Bagaimana industri perhiasan beradaptasi menghadapi kilauan emas yang semakin mahal ini? Strategi inovatif ini dibahas lebih lanjut dalam dialog Shafinaz Nachiar bersama Naomi Julia Soegianto di program Closing Bell, Haluannews.id, pada Kamis, 26 Februari 2026. Adaptasi melalui desain dan efisiensi gramasi menjadi kunci untuk mempertahankan bisnis di tengah gejolak harga komoditas global.
Editor: Rohman








Tinggalkan komentar