Drama Harga Minyak Jelang Lebaran: Terkoreksi Tajam, Ini Dalangnya!

Drama Harga Minyak Jelang Lebaran: Terkoreksi Tajam, Ini Dalangnya!

Haluannews Ekonomi – Jakarta – Pasar minyak global menunjukkan dinamika menarik jelang perayaan Idulfitri 1447 H. Harga minyak dunia terpantau terkoreksi pada perdagangan Jumat pagi (20/3/2026), memberikan sedikit kelegaan setelah volatilitas tinggi yang melanda beberapa waktu terakhir. Berdasarkan data Refinitiv pukul 08.25 WIB, minyak Brent berada di level US$105,69 per barel, turun dari posisi penutupan sebelumnya US$108,65. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) juga melemah ke US$94 per barel dari US$96,14.

COLLABMEDIANET

Koreksi harga ini terjadi setelah pergerakan pasar yang cukup liar dalam beberapa hari terakhir. Pada 19 Maret, Brent sempat menyentuh US$119 per barel, mendekati level tertinggi dalam lebih dari tiga tahun terakhir, dan WTI menembus US$100 sebelum kehilangan tenaga di akhir sesi. Lonjakan harga sebelumnya dipicu oleh serangan Iran terhadap sejumlah fasilitas energi vital di kawasan Teluk, termasuk infrastruktur gas di Qatar serta target di Arab Saudi dan Kuwait. Gangguan ini langsung memicu kekhawatiran serius akan pasokan global, mengingat kawasan tersebut merupakan pusat produksi energi dunia.

Drama Harga Minyak Jelang Lebaran: Terkoreksi Tajam, Ini Dalangnya!
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Namun, tekanan harga mulai mereda seiring munculnya sinyal penambahan pasokan yang berpotensi meredam gejolak. Pemerintah Amerika Serikat membuka opsi pelepasan cadangan minyak strategis (SPR) serta mempertimbangkan pelonggaran sanksi terhadap minyak Iran yang selama ini tertahan. Potensi tambahan sekitar 140 juta barel dari Iran ke pasar global dinilai cukup signifikan untuk meredam reli harga, meskipun analis Again Capital, John Kilduff, menyebut dampaknya mungkin hanya bersifat sementara.

Di saat yang sama, peta perdagangan minyak global juga mengalami pergeseran signifikan. Kilang-kilang di Asia kini mulai mengalihkan sumber pasokan dengan meningkatkan impor dari Amerika Serikat. Jalur distribusi pun beradaptasi dengan cepat; kapal tanker dari Teluk Meksiko kini diarahkan ke Asia melalui Terusan Panama demi mempercepat pengiriman di tengah gangguan dari Timur Tengah. Data pelacakan kapal menunjukkan setidaknya beberapa pengiriman minyak mentah AS ke Korea Selatan dan Jepang kini melewati Panama, meski menggunakan kapal berukuran lebih kecil dengan biaya per barel yang lebih mahal. Menurut analis Kpler, Matt Smith, kondisi ini mencerminkan urgensi pembeli Asia yang "berebut pasokan" di tengah ketidakpastian. Perubahan ini juga diperkuat oleh kebijakan darurat pemerintah AS yang memberikan relaksasi aturan pelayaran (Jones Act) selama 60 hari, memungkinkan kapal asing mengangkut energi antar pelabuhan AS, yang pada akhirnya berpotensi meningkatkan lalu lintas di Terusan Panama.

Kendati harga saat ini terkoreksi, risiko lonjakan belum sepenuhnya sirna. Laporan Reuters menyebut pejabat energi Arab Saudi memperkirakan harga minyak bisa melonjak hingga US$180 per barel jika gangguan pasokan terus berlanjut hingga akhir April. Situasi pasar yang sangat sensitif terhadap dinamika geopolitik ini membuat pelaku pasar terus memantau perkembangan dengan cermat.

Editor: Rohman

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar