Haluannews Ekonomi – Rupiah memulai perdagangan Kamis (29/1/2026) dengan langkah yang kurang menggembirakan, terdepresiasi terhadap dolar Amerika Serikat (AS) setelah bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed), memutuskan untuk kembali menahan suku bunga acuannya. Kenaikan dolar AS menjadi Rp16.740/US$ menjadi sorotan utama pasar keuangan pagi ini, menandakan adanya tekanan signifikan pada mata uang Garuda.

Related Post
Merujuk data dari Refinitiv yang dihimpun Haluannews.id, nilai tukar rupiah Garuda dibuka pada level Rp16.740/US$, menunjukkan pelemahan sebesar 0,24%. Kondisi ini kontras dengan hari sebelumnya, Rabu (28/1/2026), di mana rupiah sempat menguat 0,36% dan ditutup di posisi Rp16.700/US$.

Meskipun indeks dolar AS (DXY) yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia terpantau melemah tipis 0,17% ke 96,283 pada pukul 09.00 WIB, tekanan depresiasi terhadap rupiah tetap tak terhindarkan. Hal ini mengindikasikan bahwa sentimen pasar global yang bergejolak, khususnya terkait prospek kebijakan moneter AS, lebih dominan mempengaruhi pergerakan mata uang di negara berkembang dibandingkan pergerakan DXY secara umum.
Keputusan The Fed untuk mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,50%-3,75% pasca rapat Federal Open Market Committee (FOMC) yang berakhir Rabu waktu AS atau Kamis dini hari waktu Indonesia (30/1/2026), menjadi katalis utama pelemahan rupiah. Interpretasi pasar terhadap sinyal ini mengarah pada ekspektasi suku bunga yang akan bertahan lebih tinggi untuk jangka waktu lebih lama, atau dikenal dengan istilah "higher for longer".
Dalam pernyataan resminya, The Fed menjelaskan bahwa penahanan suku bunga diperlukan untuk mengevaluasi dampak pemangkasan sebelumnya, di tengah inflasi yang masih relatif tinggi. Selain itu, pasar tenaga kerja dan pertumbuhan ekonomi AS dinilai tetap solid. "Indikator yang tersedia menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi terus berkembang dengan laju yang solid. Pertambahan lapangan kerja tetap rendah, dan tingkat pengangguran menunjukkan beberapa tanda stabilisasi," demikian bunyi pernyataan The Fed.
Sikap kebijakan yang cenderung hawkish ini memicu kembali aksi buru aset berdenominasi dolar AS oleh pelaku pasar. Para investor cenderung mengalihkan modalnya ke aset safe-haven dolar AS, didorong oleh ketidakpastian global dan prospek imbal hasil yang lebih atraktif di Amerika Serikat. Fenomena ini secara langsung menekan nilai tukar mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, yang dianggap lebih rentan terhadap pergeseran sentimen global.
Editor: Rohman










Tinggalkan komentar