Haluannews Ekonomi – Rupiah mengalami tekanan hebat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis pagi (29/1/2026), menunjukkan pelemahan signifikan di tengah gejolak pasar domestik dan sentimen global. Data Refinitiv mencatat, mata uang Garuda terdepresiasi 0,51% hingga menyentuh level Rp16.785/US$. Angka ini melanjutkan pelemahan dari pembukaan di Rp16.740/US$ yang sudah melemah 0,24%, setelah sehari sebelumnya sempat menguat 0,36% di Rp16.700/US$.

Related Post
Pelemahan rupiah ini tak lepas dari kondisi pasar saham domestik yang sedang bergejolak. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pagi ini anjlok hingga sekitar 8%, memicu penerapan trading halt oleh Bursa Efek Indonesia (BEI). Ini merupakan koreksi lanjutan setelah pada Rabu (28/1/2026), IHSG juga ambruk 7,35% dengan investor asing mencatat aksi jual bersih (net sell) sebesar Rp6,17 triliun. Situasi pasar yang tidak menentu ini mendorong pelaku pasar untuk bersikap defensif, menekan aset-aset berisiko seperti rupiah.

Di sisi global, penguatan dolar AS turut memperparah tekanan terhadap rupiah. Pasar kini mencermati potensi The Federal Reserve (The Fed) untuk mempertahankan suku bunga acuan pada level tinggi lebih lama dari perkiraan. Dalam rapat Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) yang berakhir Rabu waktu AS atau Kamis dini hari waktu Indonesia (30/1/2026), The Fed memutuskan untuk menahan suku bunga di kisaran 3,50%-3,75%.
Bank sentral AS tersebut beralasan bahwa dampak dari pemangkasan suku bunga sebelumnya masih perlu dievaluasi. Selain itu, inflasi dinilai masih relatif tinggi, sementara pasar tenaga kerja dan pertumbuhan ekonomi tetap menunjukkan soliditas. "Indikator yang tersedia menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi terus berkembang dengan laju yang solid. Pertambahan lapangan kerja tetap rendah, dan tingkat pengangguran menunjukkan beberapa tanda stabilisasi," demikian pernyataan resmi The Fed. Kebijakan moneter yang hawkish ini secara langsung meningkatkan daya tarik aset berdenominasi dolar, sehingga memberikan tekanan berat pada mata uang negara-negara berkembang, termasuk rupiah.
Editor: Rohman










Tinggalkan komentar