Haluannews Ekonomi – Jakarta, 6 April 2026 – Pasar keuangan domestik memulai pekan ini dengan nilai tukar rupiah yang relatif stabil terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Pada pembukaan perdagangan Senin (6/4/2026), mata uang Garuda terpantau berada di level Rp16.990 per dolar AS, menunjukkan pergerakan yang stagnan dibandingkan penutupan perdagangan terakhir pada Kamis (2/4/2026). Data dari Refinitiv yang dianalisis oleh Haluannews.id mencatat, sebelumnya rupiah sempat melemah tipis 0,09% pada sesi tersebut.

Related Post
Bersamaan dengan itu, indeks dolar AS (DXY), yang merefleksikan kekuatan greenback terhadap enam mata uang mayor dunia, justru menunjukkan penguatan signifikan. Pada pukul 09.00 WIB, DXY tercatat melesat 0,22% ke level 100,248. Kenaikan ini menjadi sinyal kuat bahwa dolar AS masih menjadi buruan utama investor, terutama di tengah meningkatnya tensi geopolitik global yang memicu kekhawatiran pasar.

Tekanan terhadap rupiah pagi ini tak lepas dari bayang-bayang sentimen eksternal yang memanas, terutama terkait eskalasi konflik di Timur Tengah. Dolar AS terpantau bergerak di zona positif, didorong oleh kekhawatiran pasar atas perkembangan terbaru di Iran. Fokus utama investor kini tertuju pada ultimatum yang dilayangkan Presiden AS Donald Trump. Melalui unggahan media sosial pada Minggu Paskah, Trump mengancam akan menargetkan infrastruktur vital Iran, seperti pembangkit listrik dan jembatan, pada Selasa (7/4/2026) waktu setempat, jika Selat Hormuz tidak segera dibuka kembali.
Ancaman tersebut, menurut analisis pasar, bukan sekadar sinyal perang dalam waktu dekat, melainkan indikasi kuat bahwa risiko gangguan geopolitik berpotensi memanjang dan semakin dalam, memberikan beban berat bagi prospek ekonomi global. Para pelaku pasar kini memandang konflik ini sebagai katalisator yang dapat memicu efek domino, mulai dari lonjakan harga minyak mentah, berlanjut ke tekanan inflasi, dan pada akhirnya, mendorong kenaikan suku bunga acuan di berbagai negara.
Dalam skenario ketidakpastian ini, dolar AS kian mengukuhkan posisinya sebagai aset safe haven pilihan utama. Penguatan greenback di pasar global secara fundamental mencerminkan preferensi investor untuk memarkir dananya pada aset berdenominasi dolar. Konsekuensinya, ruang gerak bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, untuk menguat menjadi sangat terbatas, bahkan cenderung tertekan oleh dominasi dolar AS.
Editor: Rohman











Tinggalkan komentar