Dolar AS Ambruk di Tangan Habibie! Rupiah Perkasa Rp6.550, Ini Resepnya!

Dolar AS Ambruk di Tangan Habibie! Rupiah Perkasa Rp6.550, Ini Resepnya!

Haluannews Ekonomi – Pada penghujung tahun 2025, nilai tukar rupiah diperkirakan masih akan berfluktuasi di rentang Rp16.700-Rp16.800 per dolar AS. Angka ini menggambarkan tekanan eksternal yang masif, terutama dari dinamika kebijakan moneter Amerika Serikat, dan secara tak terhindarkan membangkitkan memori kelam krisis moneter tahun 1998. Kala itu, rupiah terjerembap ke level serupa dalam waktu yang jauh lebih singkat, diiringi gejolak politik yang mengguncang fondasi kekuasaan Presiden Soeharto selama 32 tahun. Pergantian kepemimpinan kepada B.J. Habibie awalnya disambut dengan skeptisisme pasar. Ia, seorang teknokrat dengan latar belakang industri pesawat terbang yang kerap dikritik karena proyek-proyek mahal, bahkan diragukan oleh tokoh sekaliber mantan Perdana Menteri Singapura Lee Kuan Yew, yang memprediksi rupiah akan semakin terpuruk. Namun, sejarah justru mencatat narasi yang berlawanan. Di tengah badai krisis terdalam, Habibie berhasil memulihkan kepercayaan pasar dan membawa rupiah menguat drastis, bahkan sempat menyentuh level sekitar Rp6.550 per dolar AS. Sebuah capaian luar biasa yang didasari oleh tiga pilar kebijakan strategis.

COLLABMEDIANET

1. Reformasi Perbankan dan Independensi Bank Indonesia

Dolar AS Ambruk di Tangan Habibie! Rupiah Perkasa Rp6.550, Ini Resepnya!
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Langkah fundamental pertama yang diambil adalah reformasi menyeluruh sektor perbankan. Krisis 1998 secara brutal mengungkap kerapuhan sistem perbankan nasional, yang merupakan konsekuensi dari liberalisasi pendirian bank melalui Paket Oktober 1988 tanpa diimbangi pengawasan yang memadai. Akibatnya, ketika krisis menghantam, banyak bank kolaps dan memicu fenomena penarikan dana besar-besaran oleh nasabah, atau yang dikenal sebagai bank run.

Habibie menempatkan pembenahan sektor perbankan sebagai prioritas utama dalam agenda pemulihan ekonomi. Pemerintah melakukan penutupan dan penggabungan bank-bank yang bermasalah, termasuk mengintegrasikan empat bank milik negara menjadi satu entitas raksasa, yakni Bank Mandiri. Tak kalah krusial, Habibie memisahkan Bank Indonesia (BI) dari campur tangan pemerintah melalui Undang-Undang No. 23 Tahun 1999. Dalam otobiografinya, B.J. Habibie: Detik-detik yang Menentukan (2006), ia secara tegas menyatakan bahwa kebijakan ini adalah kunci untuk menguatkan rupiah. Menurutnya, bank sentral harus memiliki independensi penuh, bersifat objektif, dan bebas dari intervensi politik agar kebijakan moneternya memiliki kredibilitas tinggi di mata pasar dan investor.

2. Pengetatan Moneter Melalui SBI untuk Pulihkan Kepercayaan Pasar
Kebijakan kedua berfokus pada penerapan rezim moneter yang ketat. Pemerintah bersama Bank Indonesia meluncurkan penerbitan Sertifikat Bank Indonesia (SBI) dengan imbal hasil yang sangat tinggi. Strategi ini memiliki tujuan ganda: pertama, mengembalikan kepercayaan masyarakat terhadap stabilitas sistem perbankan; kedua, mendorong dana yang sebelumnya ditarik untuk kembali masuk ke dalam sistem keuangan nasional.

Habibie mengklaim bahwa langkah ini terbukti sangat efektif. Suku bunga acuan yang sempat melonjak hingga mencapai sekitar 60% secara bertahap berhasil diturunkan ke level belasan persen. Seiring dengan penurunan suku bunga, kepercayaan publik terhadap institusi perbankan kembali pulih, dan tekanan depresiasi terhadap rupiah pun berangsur mereda.

3. Stabilisasi Harga Kebutuhan Pokok di Tengah Badai Krisis
Pilar kebijakan ketiga adalah upaya stabilisasi harga kebutuhan pokok. Di tengah pusaran krisis, Habibie memahami bahwa menjaga stabilitas harga pangan dan energi merupakan faktor vital untuk mencegah gejolak sosial dan ekonomi yang lebih parah. Oleh karena itu, pemerintah mengambil langkah untuk mempertahankan harga listrik dan Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi agar tidak melonjak drastis, sehingga daya beli masyarakat tidak semakin tergerus.

Kebijakan ini memang tidak lepas dari kontroversi. Habibie bahkan sempat melontarkan pernyataan yang dinilai "nyeleneh" oleh sebagian pihak, menganjurkan rakyat untuk berpuasa agar lebih hemat di masa krisis. "Ketika terjadi masa krisis saat B.J. Habibie diangkat menjadi presiden, ia menganjurkan rakyat melakukan puasa Senin-Kamis," demikian kutipan dari buku Inspirasi Habibie (2020) karya A. Makmur Makka. Terlepas dari perdebatan yang menyertainya, langkah-langkah ini menunjukkan komitmen pemerintah untuk menjaga stabilitas sosial di tengah tekanan ekonomi yang ekstrem.

Sinergi dari ketiga kebijakan tersebut – restrukturisasi perbankan yang fundamental, pengetatan moneter yang disiplin, dan stabilisasi harga kebutuhan pokok sebagai jaring pengaman sosial – terbukti sangat ampuh. Kepercayaan pasar terhadap prospek ekonomi Indonesia berangsur pulih, menarik kembali arus modal asing, dan mendorong penguatan rupiah secara signifikan. Dalam kurun waktu yang relatif singkat, dolar AS yang sempat melambung hingga Rp16.800 berhasil ditekan hingga menyentuh level sekitar Rp6.550. Sebuah pemulihan nilai tukar yang dramatis dan menjadi salah satu legasi ekonomi paling berkesan dalam sejarah bangsa, menegaskan kepemimpinan visioner di tengah badai krisis.

Editor: Rohman

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar