Haluannews Ekonomi – Insiden teknis di pusat data CME Group, Chicago, melumpuhkan perdagangan futures global selama lebih dari 10 jam, Kamis malam hingga Jumat pagi waktu setempat. Suhu di dalam data center di Aurora, Illinois, melonjak hingga 49 derajat Celsius akibat kegagalan sistem pendingin.

Related Post
Menurut laporan The Wall Street Journal, CME Group, pengelola instrumen keuangan paling aktif di dunia, termasuk futures terkait indeks saham AS, obligasi Treasury, dan minyak mentah, mengalami pemadaman yang menghentikan perdagangan kontrak-kontrak kunci tersebut sejak larut malam Thanksgiving hingga menjelang pembukaan Wall Street.

Insiden ini memicu kekhawatiran tentang kerentanan ekonomi digital, mirip dengan pemadaman yang pernah terjadi pada Amazon Web Services dan Cloudflare. Meskipun perdagangan saham dan obligasi tetap berjalan, investor kehilangan ruang gerak dan kesulitan memprediksi pergerakan pasar AS.
Berbeda dengan perdagangan saham yang tersebar di beberapa bursa, pasar futures AS sangat terkonsentrasi di CME. Perusahaan ini menangani sebagian besar volume perdagangan di area kunci seperti kontrak suku bunga dan indeks saham, menjadikannya titik kegagalan tunggal yang krusial.
Profesor keuangan di Georgetown University, James Angel, menjelaskan bahwa konsentrasi perdagangan di CME menjadikannya satu-satunya pintu masuk yang tidak bisa digantikan. CME menyalahkan pemadaman pada masalah pendinginan di pusat perdagangan elektronik utama di Aurora, Illinois.
Pusat data Aurora dioperasikan oleh CyrusOne, yang membelinya dari CME pada 2016. CyrusOne meminta maaf dan menyatakan masalah berasal dari "kegagalan sistem chiller yang mempengaruhi beberapa unit pendingin." Perusahaan tersebut mengirim teknisi untuk menangani darurat semalam, mendatangkan peralatan pendingin sementara sambil memperbaiki sistem pendingin utama.
Pemadaman ini menggarisbawahi betapa besar ketergantungan pasar pada kelancaran fungsi pusat data Aurora. Dampaknya bahkan dirasakan hingga Kuala Lumpur, di mana operator bursa Malaysia menghentikan perdagangan di pasar derivatifnya.
Belum jelas mengapa CME tidak beralih menggunakan pusat data cadangannya di wilayah New York. Salah satu masalah potensial adalah perusahaan perdagangan besar yang mengutip harga di CME tidak memiliki infrastruktur teknis yang kuat di lokasi cadangan.
CME memiliki mantan pesaing seperti Chicago Board of Trade, New York Mercantile Exchange, dan Commodity Exchange atau Comex. Derivatif yang ditangani CME sangat penting bagi pasar global, dengan rata-rata setiap hari memproses perdagangan futures dan opsi terkait indeks ekuitas senilai US$ 1,5 triliun, serta taruhan terkait suku bunga dengan nilai nosional US$ 9,6 triliun.
CEO FMX, Louis Scotto, menyatakan bahwa insiden ini menggarisbawahi kebutuhan akan lebih banyak kompetisi dan pilihan di pasar global yang kritikal. CME pernah mengalami gangguan sebelumnya, termasuk pada Februari 2019.
Pemadaman kali ini merupakan yang terpanjang dalam sejarah CME belakangan ini, namun dampaknya teredam karena terjadi pada larut malam Thanksgiving.
Editor: Rohman










Tinggalkan komentar