haluannews.id – Badai ekonomi dan gejolak geopolitik global kini mulai menerjang sektor konstruksi di Tanah Air. Pelemahan nilai tukar rupiah yang tak terbendung serta lonjakan harga energi, khususnya solar, menjadi pukulan telak bagi para pelaku usaha di bidang ini. Kondisi ini menciptakan tekanan berat yang mengancam keberlangsungan proyek-proyek vital.

Related Post
Kombinasi rupiah yang kian melemah dan harga solar yang terus merangkak naik secara langsung memicu pembengkakan biaya produksi. Tak hanya itu, harga material konstruksi juga ikut terdampak, melonjak antara 8 hingga 15 persen. Situasi ini secara signifikan memperberat beban operasional dan menekan profitabilitas bisnis konstruksi yang sudah berjalan atau akan dimulai.

Menanggapi situasi genting ini, Gabungan Pelaksana Konstruksi Nasional Indonesia (Gapensi) menyuarakan harapan besar akan dukungan pemerintah. Mereka mendesak adanya langkah konkret untuk menjaga stabilitas proyek, disertai fleksibilitas regulasi yang esensial demi kelangsungan usaha. Salah satu usulan krusial adalah penyesuaian nilai proyek pada pekerjaan yang sedang berjalan, terutama yang terdampak langsung oleh kenaikan harga solar.
Di sisi lain, Gapensi juga menyampaikan apresiasi terhadap inisiatif pemerintah yang mendorong partisipasi aktif sektor swasta dalam berbagai proyek pembangunan infrastruktur. Peran swasta ini diharapkan dapat semakin merata di berbagai pelosok Indonesia, mempercepat pemerataan pembangunan dan mengurangi beban anggaran negara. Informasi ini didapatkan dari dialog bersama Sekretaris Jenderal 1 BPP Gapensi, Radinal Efendy, dalam sebuah program di haluannews.id.










Tinggalkan komentar