haluannews.id – Gelombang pemutusan hubungan kerja PHK kini mulai menerjang sektor perbankan global. Salah satu konglomerat finansial terkemuka Standard Chartered berencana merampingkan ribuan karyawannya dalam beberapa tahun ke depan. Pemicu utamanya adalah adopsi masif teknologi kecerdasan buatan atau AI yang mengubah lanskap operasional bank.

Related Post
Bank yang berbasis di London ini mengumumkan niatnya untuk memangkas lebih dari 7.000 posisi yang dikategorikan sebagai sumber daya manusia dengan nilai tambah terbatas. Langkah ini akan dilakukan secara bertahap dalam empat tahun mendatang. Standard Chartered melihat AI sebagai pendorong utama efisiensi operasional yang krusial untuk meningkatkan profitabilitas dan menghadapi kompetisi sengit di industri keuangan global. Informasi ini dikutip dari laporan media internasional pada Rabu 20 Mei 2026.

Secara spesifik Standard Chartered menargetkan pengurangan sekitar 15% dari posisi di fungsi korporasi hingga tahun 2030. Berdasarkan perhitungan angka ini setara dengan lebih dari 7.000 karyawan dari total sekitar 52.000 staf di divisi tersebut.
CEO Standard Chartered Bill Winters menegaskan bahwa kebijakan ini bukan sekadar upaya penghematan biaya. Melainkan sebuah strategi penggantian sumber daya manusia yang dinilai kurang strategis dengan investasi teknologi dan modal finansial. "Ini bukan semata-mata pemangkasan biaya. Dalam beberapa kasus kami mengganti human capital bernilai rendah dengan financial capital dan investment capital yang kami tanamkan" ujar Winters.
Secara keseluruhan Standard Chartered memiliki hampir 82.000 pegawai di seluruh dunia. Winters menjelaskan bahwa pengurangan tenaga kerja akan diimplementasikan melalui otomatisasi dan penerapan AI. Meski demikian sebagian pegawai juga akan diberikan kesempatan untuk mengikuti program pelatihan ulang atau reskilling agar dapat beradaptasi dengan peran baru. "Orang-orang yang ingin meningkatkan keterampilan dan terus melanjutkan karier akan kami beri kesempatan untuk reposisi" tambahnya.
Posisi yang paling terdampak diperkirakan berasal dari pusat operasional back-office bank termasuk di kota-kota seperti Chennai Bengaluru Kuala Lumpur dan Warsawa. Winters menekankan bahwa AI akan menjadi fasilitator kunci dalam transformasi sistem inti perbankan perusahaan.
Langkah efisiensi Standard Chartered ini mencerminkan tren yang lebih luas di kalangan perusahaan global yang berupaya meningkatkan efisiensi melalui AI. Sebelumnya bank asal Jepang Mizuho Financial Group juga telah mengumumkan rencana untuk mengurangi hingga 5.000 pekerjaan dalam satu dekade mendatang. Di sisi lain bank-bank global kini berlomba mengintegrasikan model AI terbaru sambil menghadapi ancaman siber yang semakin meningkat.
Meskipun melakukan perampingan besar-besaran Standard Chartered tetap memasang target pertumbuhan yang ambisius. Bank ini menargetkan imbal hasil ekuitas berwujud ROTE di atas 15% pada tahun 2028 dan meningkat menjadi sekitar 18% pada tahun 2030.
Perusahaan juga mempercepat target penghimpunan dana baru bersih sebesar 200 miliar dolar AS menjadi tahun 2028 lebih cepat dari target sebelumnya pada 2029. Fokus bisnis akan diarahkan pada segmen dengan margin lebih tinggi termasuk nasabah ritel kaya dan institusi keuangan.
Namun tantangan geopolitik masih membayangi prospek industri perbankan global. Standard Chartered yang memiliki fokus kuat di kawasan Asia Pasifik dan Afrika mengakui bahwa konflik di Timur Tengah menjadi salah satu risiko utama. Pada kuartal pertama tahun ini bank tersebut telah menyisihkan provisi kehati-hatian sebesar 190 juta dolar AS terkait gejolak di Timur Tengah. "Kami sangat tangguh" kata Winters saat ditanya mengenai dampak risiko geopolitik dan pasar terhadap kemampuan bank mencapai target bisnisnya.










Tinggalkan komentar