Haluannews Ekonomi – PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) melalui entitas anak usahanya, PT Bakrie Toll Indonesia (BTI), secara resmi mengumumkan penyelesaian akuisisi 100% saham PT Cimanggis Cibitung Tollways (CCT). Langkah strategis ini, yang ditandai dengan penandatanganan Sale & Purchase Agreement (SPA) di Jakarta pada Jumat (28/11/2025), melibatkan pengambilalihan kepemilikan saham dari PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero) (SMI) dan PT Waskita Toll Road (WTR), dengan total nilai transaksi mencapai Rp 3,565 triliun.

Related Post
Direktur Utama & CEO BNBR, Anindya N. Bakrie, dalam keterangan tertulisnya pada Minggu (14/12/2025) yang diterima Haluannews.id, menjelaskan bahwa akuisisi ini merupakan respons terhadap peluang strategis untuk mengkonsolidasikan kepemilikan penuh atas CCT. Sebelumnya, BNBR telah memiliki 10% saham di CCT. "Divestasi dari SMI dan WTR ini menjadi momentum krusial bagi Perseroan untuk mengambil alih kepemilikan penuh," ujar Anindya.

Anindya menambahkan, pertimbangan utama di balik transaksi jumbo ini adalah untuk memperkokoh posisi grup usaha dalam lanskap infrastruktur nasional. Hal ini selaras dengan visi jangka panjang perseroan yang memprioritaskan sektor infrastruktur dan manufaktur. Dengan menguasai 100% saham CCT, BNBR berharap dapat mengoptimalkan sinergi operasional, meningkatkan kontrol strategis atas aset jalan tol, serta mendorong kontribusi pendapatan yang berkelanjutan dan signifikan terhadap kinerja konsolidasi grup di masa mendatang.
A. Ardiansyah Bakrie, Wakil Direktur Utama BNBR, merinci bahwa pengambilalihan CCT dilakukan melalui pembelian 72.000.000 lembar saham, yang setara dengan 90% dari seluruh saham yang ditempatkan dan disetor penuh dalam CCT. Rinciannya meliputi 44.000.000 saham CCT (55%) dari SMI dan 28.000.000 saham CCT (35%) dari WTR, dengan nilai pengambilalihan saham sebesar Rp 1 triliun.
Selain akuisisi saham, BTI juga mengambil alih piutang SMI dan WTR kepada CCT yang berasal dari pinjaman pemegang saham, dengan total nilai pokok sebesar Rp 2,565 triliun. Ini menjadikan total nilai pengambilalihan saham dan utang mencapai Rp 3,565 triliun.
Ardiansyah Bakrie menekankan pentingnya ruas Jalan Tol Cimanggis-Cibitung. "Ruas tol ini sangat strategis, berfungsi sebagai jalur alternatif vital untuk mengurai kemacetan di ruas tol lain, khususnya Tol Jakarta-Cikampek," paparnya. Ia melanjutkan, keberadaan tol ini juga menjadi elemen kunci dalam meningkatkan konektivitas dan efisiensi transportasi, sekaligus memacu pertumbuhan kawasan industri dan ekonomi di sekitar Jabodetabek.
PT Cimanggis Cibitung Tollways adalah Badan Usaha Jalan Tol (BUJT) yang mengelola Ruas Cimanggis-Cibitung sepanjang 26,184 km. Jalan tol ini memiliki masa konsesi selama 45 tahun, yang akan berakhir pada 10 Agustus 2061. Lingkup usaha CCT mencakup pendanaan, perencanaan teknis, pelaksanaan konstruksi, serta pengoperasian dan pemeliharaan Jalan Tol Cimanggis-Cibitung.
Sebagai salah satu Proyek Strategis Nasional (PSN), Jalan Tol Cimanggis-Cibitung telah beroperasi penuh sejak peresmian oleh Wakil Presiden RI Ma’ruf Amin pada 9 Juli 2024. Tol ini merupakan bagian integral dari jaringan Jalan Tol Jakarta Outer Ring Road (JORR) 2, yang menghubungkan Kota Depok, Kota Bekasi, Kabupaten Bogor, dan Kabupaten Bekasi. Selain itu, tol ini juga terhubung dengan Jalan Tol Trans Jawa Ruas Jakarta-Cikampek, Jalan Tol Jagorawi, Jalan Tol Cinere-Jagorawi, dan di masa depan akan terkoneksi dengan Jalan Tol Jakarta-Cikampek 2 Selatan.
Jalan Tol Cimanggis-Cibitung terbagi menjadi dua seksi utama. Seksi 1, segmen Cimanggis-Jatikarya sepanjang 2,75 km, telah beroperasi sejak 26 Oktober 2020. Sementara itu, Seksi 2, segmen Jatikarya-Cibitung sepanjang 23,43 km, terdiri dari Seksi 2A segmen Jatikarya-Cikeas (3,78 km) yang beroperasi sejak 16 Juni 2023, dan Seksi 2B Segmen Cikeas-Cibitung (19,657 km) yang mulai beroperasi penuh setelah peresmian pada 9 Juli 2024.
Editor: Rohman










Tinggalkan komentar