Haluannews Ekonomi – Industri baja nasional tengah menghadapi tantangan ganda yang signifikan: lonjakan harga komoditas global akibat gejolak geopolitik dan ancaman gempuran baja impor yang masif. Situasi ini mendorong produsen lokal, seperti Tatalogam Group, untuk mendesak pemerintah agar memperkuat regulasi Standar Nasional Indonesia (SNI) demi melindungi pasar domestik dari persaingan yang tidak sehat.

Related Post
Vice President Tatalogam Group, Stephanus Koeswandi, menjelaskan bahwa kenaikan harga bahan baku baja merupakan imbas langsung dari ketidakpastian global, termasuk konflik di Timur Tengah serta perang Rusia-Ukraina. "Gejolak ini secara signifikan mempengaruhi harga komoditas, yang pada gilirannya menekan biaya produksi kami sebagai produsen bahan bangunan berbasis baja seperti genteng metal dan baja ringan," ujar Stephanus, seperti dikutip dari laporan Haluannews.id.

Selain tekanan harga, industri baja lokal juga dihadapkan pada derasnya arus baja impor, terutama dari Tiongkok. Stephanus berharap, pada tahun 2026, pasokan baja impor ini dapat dikendalikan secara efektif. "Jika tidak ada pembatasan yang jelas dan penegakan standar yang ketat, produsen lokal berisiko gulung tikar karena tidak mampu bersaing dengan harga baja impor yang terkadang jauh lebih murah dan belum tentu memenuhi standar kualitas," tambahnya.
Untuk mengatasi ancaman ini, Tatalogam Group menekankan pentingnya peran pemerintah dalam memperkuat dan menegakkan Standar Nasional Indonesia (SNI) bagi produk baja impor yang beredar di pasar domestik. Pengetatan SNI diharapkan tidak hanya menjamin kualitas produk yang sampai ke konsumen, tetapi juga menciptakan iklim persaingan yang lebih adil dan setara bagi industri dalam negeri. Ini merupakan langkah krusial untuk menjaga keberlangsungan dan pertumbuhan sektor baja nasional.
Menghadapi situasi yang menantang ini, Tatalogam Group tidak tinggal diam. Perusahaan fokus pada penguatan kapasitas produksi sebagai strategi proaktif. "Kami berencana meningkatkan kapasitas produksi dari 250 ribu ton menjadi 500 ribu ton per tahun. Ini adalah langkah strategis untuk menjangkau pasar yang lebih luas, memenuhi permintaan domestik yang terus bertumbuh, sekaligus menunjukkan komitmen kami terhadap industri baja nasional," jelas Stephanus.
Dialog mengenai kondisi industri baja ini terungkap dalam program Manufacture Check Haluannews.id, di mana Stephanus Koeswandi memaparkan strategi dan harapan Tatalogam Group di tengah dinamika pasar global dan domestik. Harapan besar disematkan pada kebijakan pemerintah yang pro-industri lokal agar mampu bertahan dan berkembang di tengah gempuran produk impor, demi menjaga ketahanan ekonomi nasional.
Editor: Rohman










Tinggalkan komentar