Awas! Bursa Saham Dunia Rontok, Efek Domino dari AS?

Awas! Bursa Saham Dunia Rontok, Efek Domino dari AS?

Haluannews Ekonomi – Pasar saham global mengalami guncangan hebat, terperosok ke zona merah mengikuti jejak Wall Street. Kekhawatiran akan kondisi kredit perbankan di Amerika Serikat menjadi pemicu utama aksi jual massal ini.

COLLABMEDIANET

Saham-saham di bursa Asia dan Eropa turut merasakan dampak negatif dari penurunan di Wall Street pada hari Jumat. Sentimen pasar semakin tertekan oleh kekhawatiran yang lebih luas, termasuk potensi perang dagang yang kembali memanas, isu gelembung teknologi, dan penutupan sebagian layanan pemerintah AS.

Awas! Bursa Saham Dunia Rontok, Efek Domino dari AS?
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Setelah reli panjang yang membawa beberapa indeks mencetak rekor tertinggi, investor dikejutkan oleh langkah Presiden AS yang kembali menerapkan tarif terhadap produk Tiongkok. Langkah ini memicu respons balasan dan menggoyahkan kepercayaan pasar.

Kecemasan investor semakin meningkat seiring dengan kabar kebangkrutan perusahaan suku cadang First Brands dan pemberi pinjaman subprime Tricolor pada bulan September. First Brands diketahui memiliki utang miliaran dolar kepada sejumlah pemberi pinjaman.

Kondisi diperburuk dengan pengumuman Zions Bancorp yang mengalami penghapusan utang sebesar US$ 50 juta terkait pinjaman komersial dari cabangnya di California. Western Alliance juga mengumumkan bahwa seorang peminjam gagal memberikan jaminan yang dijanjikan.

Berita-berita negatif ini memicu aksi jual saham perbankan menengah, yang kemudian menyebar ke seluruh Wall Street dan menyeret turun indeks-indeks utama. Indeks Volatilitas VIX, yang menjadi tolok ukur kecemasan investor, melonjak ke level tertinggi sejak Mei. Sementara itu, emas sebagai aset safe haven kembali mencetak rekor di US$4.379,93 per ons.

Sentimen negatif ini memukul optimisme yang sebelumnya mendorong pasar lebih tinggi sepanjang tahun ini. Investor semakin khawatir bahwa valuasi saham, terutama di sektor teknologi, sudah terlalu tinggi dan berpotensi membentuk gelembung yang dipicu oleh euforia kecerdasan buatan (AI).

"Volatilitas di bank-bank regional, ditambah dengan kolapsnya pemberi pinjaman subprime Tricolor Holdings baru-baru ini, membuat investor mempertanyakan kesehatan pasar kredit AS secara umum," ujar Rodrigo Catril dari National Australia Bank.

Di Asia, Hong Kong anjlok 2,5% dan Shanghai 2%. Tokyo dan Taipei masing-masing turun lebih dari satu persen, sementara Singapura, Sydney, Wellington, Bangkok, dan Manila juga berada di zona merah. Di Eropa, London, Paris, dan Frankfurt turun lebih dari satu persen.

Investor juga masih mencermati perkembangan hubungan antara Washington dan Beijing terkait perdagangan dan pengiriman. Selain itu, penutupan sebagian layanan pemerintah AS akibat belum tercapainya kesepakatan anggaran juga menambah ketidakpastian.

Di tengah sentimen negatif ini, harapan akan penurunan suku bunga oleh bank sentral AS memberikan sedikit dukungan bagi pasar. Namun, ekspektasi ini didasarkan pada laporan-laporan yang menunjukkan potensi pelemahan pasar tenaga kerja AS.

Harga minyak mentah juga melanjutkan penurunannya di tengah kekhawatiran tentang ketegangan Tiongkok-AS.

Editor: Rohman

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar