Haluannews Ekonomi – Bursa saham dibuat heboh dengan kabar penjualan saham Adani Wilmar oleh Adani Group. Raksasa bisnis asal India ini melepas seluruh kepemilikan sahamnya senilai US$2 miliar atau sekitar Rp 32,3 triliun (kurs asumsi). Penjualan ini diumumkan pada perdagangan Selasa (31/12/2024) pagi, dan langsung membuat harga saham Adani Wilmar ambles lebih dari 6%.

Related Post
Haluannews.id mengutip Reuters, Adani Group akan melepas 44% sahamnya di Adani Wilmar. Sebesar 31% saham akan dijual kepada mitra joint venture mereka, Wilmar International dari Singapura, dengan harga maksimum 305 rupee per saham. Harga ini mencerminkan diskon 7,2% dari harga penutupan saham pada Senin. Sisa 13% saham akan dilepas di pasar terbuka.

Kabar ini membuat saham Adani Wilmar anjlok 6,4% di awal perdagangan Selasa, hingga menyentuh angka 307,10 rupee per saham. Langkah kontroversial ini diambil di tengah badai kontroversi yang menerpa bos Adani Group, Gautam Adani. Miliarder tersebut tengah menghadapi sejumlah tuduhan penipuan perusahaan, mulai dari kasus dugaan suap hingga penggelapan dana dari investor.
Belum lama ini, Adani didakwa di pengadilan Amerika Serikat atas tuduhan membayar suap ratusan juta dolar dan menyembunyikannya dari investor. Disebutkan, Adani diduga telah menyetujui pembayaran suap lebih dari US$250 juta kepada pejabat India. Skema ini diproyeksikan menghasilkan keuntungan lebih dari US$2 miliar setelah pajak selama 20 tahun. Meskipun demikian, tak satu pun terdakwa dalam kasus ini, termasuk Adani, yang ditahan. Adani sendiri dikenal sebagai loyalis Perdana Menteri India, Narendra Modi, dan berasal dari kampung halaman yang sama, Gujarat. Wakil Asisten Jaksa Agung Lisa Miller menyatakan, "Dakwaan ini menuduh adanya skema untuk membayar suap lebih dari U$250 juta kepada pejabat pemerintah India, berbohong kepada investor dan bank untuk mengumpulkan miliaran dolar, dan menghalangi keadilan," seperti dikutip AFP pada Kamis (21/11/2024). Penjualan saham Adani Wilmar ini pun semakin menambah spekulasi di tengah badai kontroversi yang melanda kerajaan bisnisnya.










Tinggalkan komentar