Nikel RI di Ujung Tanduk! Produksi Dipangkas, Smelter Merana?

Haluannews Ekonomi – Industri hilirisasi nikel Indonesia kini dihadapkan pada prospek yang kurang menguntungkan menyusul keputusan pemangkasan drastis produksi bijih nikel. Dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) tahun 2026, volume produksi bijih nikel dipatok hanya di level 260-an juta ton, sebuah angka yang memantik kekhawatiran serius di kalangan pelaku industri hilir.

COLLABMEDIANET
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Ketua Umum Forum Industri Nikel Indonesia (FINI), Arif Perdana Kusumah, menyoroti bahwa proyeksi kebutuhan bijih nikel untuk sektor hilir, khususnya smelter, diperkirakan mencapai 340-350 juta ton pada tahun yang sama. Angka ini menciptakan jurang pasokan yang menganga lebar, dengan defisit mencapai sekitar 80-90 juta ton. Situasi ini secara otomatis mendorong para operator smelter untuk memutar otak mencari strategi pemenuhan bahan baku, di tengah ketersediaan yang semakin terbatas.

Kondisi ketidakseimbangan antara pasokan dan permintaan ini, menurut Arif, berisiko besar menahan laju dan bahkan mengubah haluan investasi di sektor hilirisasi nikel Indonesia dalam jangka panjang. Potensi kelangkaan bahan baku dapat membuat investor berpikir ulang untuk menanamkan modalnya di Tanah Air, meskipun Indonesia gencar menggaungkan program hilirisasi.

Dampak dari pemangkasan produksi bijih nikel pada tahun 2026 ini menjadi topik utama dalam dialog Serliana Salsabila dengan Arif Perdana Kusumah di program Closing Bell, Haluannews.id, pada Kamis (05/03/2026). Diskusi tersebut mengupas tuntas tantangan yang harus dihadapi industri nikel nasional demi menjaga keberlanjutan visi hilirisasi.

Editor: Rohman

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar