Pajak Rp129 T Mengintai, Respons Bos Nvidia Bikin Melongo!
Haluannews Ekonomi – Wacana pengenaan pajak kekayaan di negara bagian California, Amerika Serikat, tengah menjadi sorotan hangat, terutama di kalangan konglomerat teknologi. Namun, respons tak terduga datang dari salah satu taipan teknologi terkemuka dunia, Jensen Huang, CEO Nvidia, yang menyatakan tidak keberatan jika harus membayar kewajiban fiskal hingga hampir US$8 miliar atau setara Rp129,42 triliun (dengan asumsi kurs Rp16.700/US$).

Related Post

Menurut catatan Haluannews.id per 6 Januari, kekayaan bersih Huang diperkirakan mencapai US$155 miliar, menempatkannya sebagai orang terkaya ke-9 di dunia. Dengan nilai aset fantastis ini, ia berpotensi besar terkena imbas kebijakan pajak kekayaan satu kali sebesar 5% yang diusulkan bagi individu dengan kekayaan di atas US$1,1 miliar.
"Saya bahkan tidak pernah memikirkannya," ujar Huang dalam sebuah wawancara dengan Bloomberg TV, menunjukkan sikap yang sangat santai. Ia menegaskan kesiapannya untuk mematuhi regulasi yang berlaku. "Kami memilih tinggal di Silicon Valley, dan berapa pun pajak yang ingin diterapkan, tidak masalah bagi saya," tambahnya, menekankan komitmennya terhadap wilayah tersebut.
Usulan pajak ini, yang diajukan pada November 2025 oleh serikat pekerja sektor kesehatan dan didukung oleh sejumlah legislator progresif AS, termasuk Rep Ro Khanna dan Senator Bernie Sanders, menargetkan sekitar 200 individu terkaya di California. Proyeksi pendapatan dari skema ini diperkirakan mencapai US$100 miliar, yang rencananya akan dialokasikan untuk menutupi defisit anggaran kesehatan California yang membengkak akibat pemotongan belanja federal, serta membiayai sektor pendidikan publik dan program bantuan pangan.
Agar dapat masuk ke pemungutan suara pada November 2026, inisiatif ini membutuhkan lebih dari 870.000 tanda tangan. Jika berhasil disetujui, para miliarder yang saat ini berdomisili di California akan dikenai pajak atas seluruh aset bernilai ekonomis, termasuk saham dan kepemilikan bisnis, meskipun mereka memutuskan untuk pindah dari California setelah awal tahun 2026. Namun, aset properti dikecualikan karena telah dikenakan pajak terpisah, dan pembayaran kewajiban ini dapat dicicil hingga lima tahun.
Sikap legowo Huang ini berbanding terbalik dengan reaksi banyak miliarder lainnya. Sejumlah pengusaha teknologi berpendapat bahwa pajak kekayaan semacam ini berpotensi memaksa para pendiri perusahaan menjual saham dalam jumlah besar untuk memenuhi kebutuhan likuiditas. Palmer Luckey, pendiri Anduril, misalnya, mengeluhkan bahwa pajak yang diusulkan akan mengharuskan dirinya dan rekan pendiri mencari miliaran dolar tunai.
Miliarder lain, Vinod Khosla, pemodal ventura dan salah satu pendiri Sun Microsystems, bahkan mengindikasikan bahwa pajak kekayaan akan mendorong para miliarder untuk meninggalkan negara bagian tersebut. Laporan dari The New York Times juga menyebutkan bahwa Larry Page, salah satu pendiri Google, dan pemodal ventura Peter Thiel, dilaporkan mempertimbangkan untuk pindah dari California sebelum akhir 2025 demi menghindari proposal pajak ini.
Di sisi lain, para pendukung inisiatif pemungutan suara menunjuk pada studi yang membantah klaim bahwa pajak yang lebih tinggi secara signifikan menyebabkan eksodus massal orang kaya dan bisnis.
Sebagai informasi, mayoritas kekayaan Jensen Huang berasal dari kepemilikan sekitar 3% saham Nvidia. Perusahaan semikonduktor ini kini memiliki nilai kapitalisasi pasar lebih dari US$4,6 triliun, didongkrak oleh lonjakan permintaan global terhadap chip kecerdasan buatan (AI).
Editor: Rohman










Tinggalkan komentar