Dolar AS Terjungkal, Rupiah Bangkit Tipis! Sinyal The Fed Menguat?
Haluannews Ekonomi – Rupiah mengawali pekan perdagangan ini dengan performa positif, menunjukkan apresiasi tipis terhadap dominasi dolar Amerika Serikat (AS). Berdasarkan data yang dihimpun Haluannews.id dari Refinitiv, pada pembukaan perdagangan pagi Senin (9/2/2026), mata uang Garuda terapresiasi 0,03%, menembus level Rp16.555/US$. Kenaikan ini menjadi angin segar setelah pada penutupan pekan lalu, Jumat (6/2/2026), rupiah sempat tertekan 0,21% ke posisi Rp16.860/US$, yang merupakan level terlemah dalam dua pekan terakhir sejak 22 Januari 2026.

Related Post

Sementara itu, di kancah global, Indeks Dolar AS (DXY) yang menjadi barometer kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, terpantau bergerak di zona merah. Pada pukul 09.00 WIB, DXY melemah 0,10% ke level 97,542, melanjutkan tren penurunan yang terjadi pada perdagangan Jumat (6/2/2026) lalu, di mana DXY ditutup terkoreksi 0,2%.
Pergerakan nilai tukar rupiah pada awal pekan ini tak lepas dari pengaruh sentimen eksternal dan internal. Dari sisi eksternal, koreksi pada Indeks Dolar AS (DXY) terjadi menjelang serangkaian rilis data makroekonomi krusial dari Negeri Paman Sam. Data-data penting seperti penjualan ritel, inflasi, hingga laporan tenaga kerja yang sempat tertunda dan dijadwalkan rilis pada Rabu mendatang, menjadi sorotan utama pasar.
Di samping itu, pasar global juga semakin gencar menimbang potensi pelonggaran kebijakan moneter oleh Bank Sentral AS (The Federal Reserve/The Fed) tahun ini. Kontrak Fed funds futures kini mencerminkan probabilitas sebesar 19,9% untuk pemangkasan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin pada pertemuan The Fed berikutnya, 17-18 Maret. Angka ini meningkat dari 18,4% pada Jumat lalu, sebagaimana tertera dalam CME Group FedWatch Tool.
Dari ranah domestik, agenda ekonomi dibuka dengan rilis data Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Indonesia untuk periode Januari 2026 pada hari ini. Data ini sangat dinanti untuk memotret arah optimisme rumah tangga di awal tahun fiskal. Konsensus pasar memproyeksikan IKK Januari berada di level 123,9, sedikit menguat dibandingkan Desember 2025 yang tercatat 123,5. Pada bulan sebelumnya, keyakinan konsumen sempat menunjukkan sedikit penurunan dari 124,0 pada November, yang merupakan level tertinggi dalam sembilan bulan terakhir, seiring dengan melemahnya sebagian subindeks pembentuk survei.
Editor: Rohman










Tinggalkan komentar