Haluannews Ekonomi – Tahun lalu menjadi tahun kelam bagi 20 Bank Perkreditan Rakyat (BPR) di Indonesia. Jumlah tersebut merupakan rekor tertinggi sepanjang sejarah, jauh melampaui rata-rata penutupan BPR setiap tahunnya yang biasanya hanya 6-7 bank, menurut data Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). Kejadian ini menimbulkan pertanyaan besar terkait stabilitas sektor perbankan nasional.

Related Post
Meskipun begitu, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melalui Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan, Dian Ediana Rae, justru menilai penutupan tersebut sebagai indikator positif. Dalam webinar Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Juli lalu, Dian menyatakan bahwa penutupan sejumlah BPR tersebut tidak menimbulkan keresahan masyarakat. Ia menekankan kecepatan LPS dalam menangani masalah ini, sehingga dana nasabah tetap aman. Kepercayaan masyarakat terhadap sistem perbankan pun diharapkan tetap terjaga.

Namun, di balik pernyataan tersebut, terungkap modus operandi fraud yang menjadi penyebab utama kebangkrutan sejumlah BPR. Direktur Eksekutif Hukum LPS, Ary Zulfikar, memaparkan tiga modus utama yang dilakukan para pelaku. Pertama, lemahnya pengawasan berjenjang di internal BPR, yang dimanfaatkan oleh oknum tak bertanggung jawab, mulai dari pemegang saham, direksi, hingga karyawan. Teknologi informasi (IT) dinilai penting untuk mencegah hal ini, terutama dalam menolak pengajuan kredit fiktif secara otomatis.
Modus kedua adalah kerjasama antara calon debitur dan oknum internal BPR yang berwenang memberikan kredit. Kredit diberikan tanpa melalui proses assessment yang ketat, diikuti dengan praktik kickback atau pembayaran ilegal. Modus ini bahkan bisa melibatkan pembuatan kredit fiktif secara masif, melibatkan direksi, karyawan, dan komite investasi.
Modus ketiga yang cukup mengkhawatirkan adalah penggelapan dana simpanan nasabah tanpa sepengetahuan pemiliknya. Hal ini sering terjadi karena sistem manual dan lemahnya pengawasan. Ketiga modus ini menunjukkan betapa pentingnya tata kelola yang baik dan penerapan teknologi untuk mencegah kerugian di masa mendatang.
Berikut daftar 20 BPR yang tutup sepanjang tahun 2024:
- BPR Wijaya Kusuma
- BPRS Mojo Artho Kota Mojokerto (Perseroda)
- BPR Usaha Madani Karya Mulia
- BPR Pasar Bhakti Sidoarjo
- BPR Purworejo
- BPR EDC Cash
- BPR Aceh Utara
- BPR Sembilan Mutiara
- BPR Bali Artha Anugrah
- BPRS Saka Dana Mulia
- BPR Dananta
- BPR Bank Jepara Artha
- BPR Lubuk Raya Mandiri
- BPR Sumber Artha Waru Agung
- BPR Nature Primadana Capital
- BPRS Kota Juang (Perseroda)
- BPR Duta Niaga
- BPR Pakan Rabaa
- BPR Kencana
- BPR Arfak Indonesia
(wur)




Tinggalkan komentar