Ganti Powell, Pasar RI Bergetar? Sektor Ini Paling Kritis!

Haluannews Ekonomi – Jakarta – Bursa keuangan global tengah menahan napas menyusul spekulasi intensif mengenai pergantian kepemimpinan di Federal Reserve (The Fed), bank sentral Amerika Serikat. Posisi Gubernur The Fed yang saat ini dipegang Jerome Powell menjadi sorotan utama, memicu gelombang ketidakpastian di kalangan pelaku pasar yang khawatir akan potensi pergeseran arah kebijakan moneter AS.

COLLABMEDIANET
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Dua nama mencuat sebagai kandidat kuat pengganti Powell: Kevin Warsh, mantan Gubernur The Fed yang dikenal dengan pandangan moneter konservatif dan cenderung hawkish, serta Kevin Hassett, Direktur Dewan Ekonomi Nasional yang memiliki rekam jejak di pemerintahan. Perdebatan mengenai siapa yang akan menduduki kursi panas ini bukan sekadar isu internal AS, melainkan penentu arah kebijakan moneter global yang akan berdampak luas, termasuk pada stabilitas ekonomi Indonesia.

Pergantian pucuk pimpinan The Fed selalu menjadi momen krusial. Kebijakan suku bunga, neraca keuangan, hingga komunikasi The Fed akan sangat bergantung pada filosofi ekonomi gubernur baru. Bagi Indonesia, perubahan ini bisa berarti angin segar atau justru badai baru. Pasar keuangan Tanah Air, mulai dari nilai tukar Rupiah hingga pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), sangat sensitif terhadap sinyal dari Washington.

Menanggapi dinamika ini, Equity Analyst Haluannews.id, Gelson Kurniawan, dalam dialog eksklusif di Power Lunch Haluannews.id (Selasa, 16/12/2025), mengungkapkan bahwa pasar akan mencermati rekam jejak dan pandangan ekonomi dari masing-masing kandidat. "Jika kandidat terpilih cenderung hawkish, kita bisa melihat potensi kenaikan suku bunga lebih agresif atau pengetatan likuiditas yang lebih cepat. Ini tentu akan menekan pasar negara berkembang seperti Indonesia, memicu arus modal keluar dan pelemahan Rupiah," jelas Gelson.

Lebih lanjut, Gelson mengidentifikasi beberapa sektor di Indonesia yang paling rentan terhadap gejolak ini. "Sektor yang memiliki utang luar negeri besar, seperti manufaktur dan properti, akan merasakan dampak langsung dari penguatan dolar AS dan kenaikan biaya pinjaman. Selain itu, sektor teknologi dan startup yang sangat bergantung pada pendanaan global juga perlu waspada terhadap potensi pengetatan likuiditas global," imbuhnya. Sebaliknya, sektor komoditas mungkin mendapatkan sedikit dorongan jika kebijakan The Fed secara tidak langsung memicu kenaikan harga komoditas global, meskipun ini bukan jaminan pasti.

Para pelaku pasar di Indonesia kini dihadapkan pada periode ketidakpastian sembari menunggu keputusan resmi dari Gedung Putih. Pemilihan Gubernur The Fed yang baru bukan hanya sekadar pergantian figur, melainkan penentu arah kebijakan moneter global yang akan menguji ketahanan ekonomi domestik dan strategi investasi di Tanah Air.

Editor: Rohman

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar