Haluannews Ekonomi – Gempa bumi dahsyat yang mengguncang Yogyakarta dan sekitarnya pada 10 Juni 1867, atau tepat 158 tahun silam, menjadi catatan kelam dalam sejarah kebencanaan di Indonesia. Berita dari de Locomotief (20 Juni 1867) menggambarkan bagaimana subuh yang mencekam menyelimuti Magelang, dengan orang-orang berlumuran darah dan debu beterbangan akibat bangunan yang runtuh.

Related Post
Guncangan hebat tersebut dirasakan hingga Semarang, Surakarta, Madiun, dan Banyuwangi, namun kerusakan terparah terjadi di Yogyakarta, pusat Kesultanan. Werner Kraus dalam bukunya "Raden Saleh: Kehidupan dan Karyanya" (2018) mencatat ribuan nyawa melayang dan ribuan rumah serta bangunan hancur akibat gempa Yogyakarta 1867. Korban jiwa tidak hanya berasal dari kalangan pribumi, tetapi juga warga Belanda, Arab, dan China.

Bangunan-bangunan ikonik Yogyakarta seperti Candi Sewu, Tugu Golong Gilig, dan Tugu Pal Putih turut menjadi korban keganasan gempa. Benteng-benteng peninggalan VOC pun luluh lantak. Masyarakat diliputi ketakutan dan memilih untuk mengungsi karena gempa susulan terus terjadi. Java Bode (27 Juni 1867) melaporkan banyaknya warga yang melakukan zikir dan doa bersama untuk memohon keselamatan.
Pemerintah kolonial dan Kesultanan Yogyakarta memberikan bantuan kepada para korban. BMKG memperkirakan gempa tersebut berkekuatan M7,8, disebabkan oleh deformasi batuan dalam lempeng Indo-Australia di Samudera Hindia. Gempa ini menjadi salah satu yang terkuat yang pernah mengguncang Pulau Jawa. Tragedi serupa terulang pada 26 Mei 2006, ketika gempa M6,3 kembali mengguncang Yogyakarta dan menewaskan lebih dari 5 ribu orang.
Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Daryono, menjelaskan bahwa gempa 1867 merupakan gempa dalam yang dipicu oleh deformasi batuan dalam Lempeng Indo-Australia. Gempa ini menyebabkan kerusakan meluas di Yogyakarta, Jawa Tengah, dan Jawa Timur, dengan korban tewas mencapai 700 hingga 1.000 jiwa, termasuk 236 orang di Surakarta. Tidak adanya laporan tsunami disebabkan karena gempa tersebut merupakan gempa dalam.
Editor: Rohman










Tinggalkan komentar