Haluannews Ekonomi – PT Waskita Karya (Persero) Tbk (WSKT) menutup tahun buku 2025 dengan kinerja keuangan yang impresif, menandai keberhasilan strategi penyehatan yang konsisten. Emiten konstruksi pelat merah ini berhasil membukukan laba bruto melonjak 12% menjadi Rp 1,58 triliun, naik signifikan dari Rp 1,41 triliun pada tahun 2024. Peningkatan ini didorong oleh pertumbuhan pendapatan konsolidasi yang solid serta efisiensi operasional yang signifikan di seluruh lini bisnis.

Related Post
Sekretaris Perusahaan Waskita Karya, Ermy Puspa Yunita, dalam keterangan resmi yang diterima Haluannews.id pada Kamis (2/4/2026), mengungkapkan bahwa total pendapatan konsolidasi Perseroan mencapai Rp 8,85 triliun pada 2025. Angka tersebut ditopang oleh kontribusi entitas anak sebesar Rp 3,1 triliun, melengkapi pendapatan dari induk perusahaan yang mencapai Rp 5,75 triliun. Mayoritas pendapatan ini, lanjut Ermy, berasal dari berbagai proyek pemerintah, menegaskan peran strategis Waskita dalam mendukung program-program pembangunan nasional.

Berdasarkan segmentasi usaha, pendapatan Perseroan bersumber dari segmen konektivitas sebesar Rp 3,3 triliun, Sumber Daya Air (SDA) Rp 1,4 triliun, gedung Rp 1,2 triliun, serta segmen lainnya sebesar Rp 0,9 triliun. Meskipun demikian, Waskita masih mencatat beban pokok pendapatan sebesar Rp 7,2 triliun, atau sekitar 82% dari pendapatan usaha. Perseroan berkomitmen untuk menyelesaikan proyek-proyek lama yang masih memerlukan cash to completion, dengan target rampung pada tahun 2026.
Peningkatan laba bruto yang mencapai 12% ini turut memperbaiki Gross Profit Margin (GPM) Perseroan menjadi 18% di tahun 2025, membaik dari 13% pada tahun 2024. "Peningkatan laba bruto itu berhasil diraih Waskita berkat strategi efisiensi operasional proyek yang dijalankan secara menyeluruh, tidak hanya di induk perusahaan tetapi juga pada anak usaha," jelas Ermy.
Guna menciptakan efisiensi dan efektivitas dalam pengerjaan proyek, Waskita mengimplementasikan lean organization dan terus melakukan transformasi digital pada berbagai bidang. Di bidang operasional, Perseroan mengintegrasikan Core System ERP SAP S/4 HANA dengan Building Information Modelling (BIM) dan perencanaan Last Planner System (LPS). Inovasi digital lainnya termasuk penggunaan teknologi Artificial Intelligence (AI) WISENS (Waskita Intelligent Sensing System) pada beberapa proyek. Salah satunya adalah AI Pavement Crack Detection yang bertujuan membantu Waskita mendeteksi kerusakan jalan secara otomatis, sekaligus menargetkan zero defect dalam proses konstruksi.
"Melalui penggunaan AI tersebut, penghitungan jumlah dan jenis kerusakan dapat dilakukan lebih efisien, mendukung inspeksi dan pengawasan aset jalan tol. Waktu inspeksi yang dapat diefisiensi mencapai 40 persen lebih cepat," terang Ermy. Transformasi juga dilakukan pada sisi penguatan Tata Kelola Teknologi Informasi (TI), termasuk pengembangan Dashboard Management Terintegrasi dan perbaikan sistem keuangan guna mendukung Internal Control Over Financial Reporting (ICOFR). "Secara keseluruhan, ultimate goals transformasi Waskita adalah terciptanya operational excellence secara berkesinambungan," tegasnya.
Di sisi beban operasional, Perseroan mencatat Operating Expenses (Opex) sebesar Rp 1,7 triliun, di mana 76,6% di antaranya merupakan biaya operasional tunai, dan sisanya 23,4% berupa non-tunai seperti beban penyusutan dan amortisasi.
Kabar baik lainnya, Waskita berhasil menurunkan liabilitas sebesar Rp 2,21 triliun pada tahun 2025. Manajemen kini fokus pada penurunan liabilitas melalui beberapa rencana strategis, termasuk percepatan divestasi jalan tol dan optimalisasi aset. Langkah ini merupakan bagian dari upaya Waskita Karya untuk kembali ke core business sebagai kontraktor murni. Sepanjang 2025, Waskita telah menyelesaikan sejumlah aksi pelepasan saham, seperti divestasi 94,7% saham PT Waskita Sangir Energi (WSE) melalui anak usaha PT Waskita Karya Infrastruktur (WKI) pada September, serta pelepasan 35% saham PT Cimanggis Cibitung Tollways (CCT) oleh PT Waskita Toll Road pada November. Selanjutnya, pada Desember 2025, PT Waskita Karya Realty (WKR) mendivestasikan 20% saham PT Waskita Modern Realty (WMR), bertujuan mengoptimalkan portofolio investasi dan memperkuat likuiditas keuangan WSKT.
Selain itu, Perseroan juga mencatatkan Nilai Kontrak Baru (NKB) yang impresif, menembus Rp 12,52 triliun, melonjak signifikan dari Rp 9,55 triliun di tahun 2024. "Selama 2025 kami terus menambah kontrak baru namun lebih selektif, seperti adanya monthly payment dan menghindari proyek turnkey," tutur Ermy. Perolehan NKB ini didominasi oleh proyek pemerintah, mulai dari jaringan irigasi, Sekolah Rakyat (SR), hingga konstruksi Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) di berbagai wilayah, guna mendukung Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC).
Dari sisi kegiatan operasional, per 31 Desember 2025, Waskita mengelola 63 proyek di berbagai wilayah di Indonesia dengan total nilai kontrak mencapai Rp 31,7 triliun. Ermy menegaskan, fokus utama Waskita Karya kini adalah menekan total utang. Upaya ini mencakup Master Restructuring Agreement (MRA) dan Kredit Modal Kerja Penjaminan (KMKP) 2021 yang telah disetujui oleh 22 kreditur perbankan pada Oktober 2024 lalu, dengan total nilai outstanding sebesar Rp 31,65 triliun. Restrukturisasi obligasi Non-Penjaminan senilai Rp 3,35 triliun juga telah mendapatkan persetujuan atas tiga seri obligasi dari total empat seri melalui Rapat Umum Pemegang Saham Obligasi (RUPO).
"Upaya penurunan utang ini sejalan dengan strategi Rencana Penyehatan Keuangan (RPK) yang sudah disahkan pada Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). Ke depannya, Waskita berkomitmen untuk kembali ke core business sebagai kontraktor murni, demi menciptakan kegiatan operasional yang lebih sustainable," pungkas Ermy. Inovasi dalam memperkuat tata kelola dan manajemen risiko melalui pembentukan berbagai komite, baik pada dewan komisaris maupun direksi, diharapkan membuat perusahaan lebih adaptif dalam menghadapi berbagai tantangan ke depan.
Editor: Rohman










Tinggalkan komentar