Haluannews Ekonomi – Jakarta, Perdagangan awal pekan di Bursa Efek Indonesia (BEI) dibuka dengan sentimen negatif yang kuat pada Senin (16/3/2026). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) langsung terperosok, anjlok lebih dari 3% dalam waktu kurang dari lima belas menit setelah pembukaan pasar, menyentuh level 6.917,32. Ini menandai awal pekan yang berat bagi investor domestik, sebagaimana dilaporkan oleh Haluannews.id.

Related Post
Data perdagangan sesi pertama menunjukkan dominasi tekanan jual yang masif. Hanya 77 saham yang berhasil menguat, sementara 564 saham terpaksa melemah, dan 84 saham lainnya stagnan. Volume transaksi juga terbilang lesu, hanya mencapai Rp 2,64 triliun dari 7,01 miliar saham yang diperdagangkan dalam 335.764 kali transaksi. Akibatnya, kapitalisasi pasar kembali menyusut signifikan, kini berada di angka Rp 12.360 triliun. Tren bearish IHSG semakin mengkhawatirkan, di mana indeks kebanggaan pasar modal Indonesia ini hanya mampu mencatatkan penguatan selama dua hari dari sebelas sesi perdagangan terakhir, dengan total koreksi mendekati 20% sejak awal tahun.

Koreksi pasar hari ini bersifat menyeluruh, dengan seluruh sektor mencatatkan pelemahan. Sektor infrastruktur, energi, dan barang baku menjadi yang paling terpukul dengan penurunan terdalam. Sementara itu, sektor kesehatan dan finansial menunjukkan ketahanan relatif dengan koreksi yang lebih minim. Sejumlah saham berkapitalisasi besar atau blue chip milik konglomerat turut menjadi beban berat bagi kinerja IHSG. Saham Dian Swastatika Sentosa (DSSA) menjadi penekan utama dengan kontribusi pelemahan hingga 18,24 poin indeks. Tak ketinggalan, saham-saham dari Grup Barito milik Prajogo Pangestu, termasuk BREN, juga kompak ambles dan masuk dalam daftar saham penekan IHSG pagi ini. Deretan saham lain yang turut menyeret IHSG ke zona merah meliputi BRMS, BBRI, TLKM, BBCA, dan BMRI.
Pekan perdagangan kali ini akan sangat singkat, hanya berlangsung dua hari, yakni Senin dan Selasa, sebelum pasar memasuki libur panjang dan cuti bersama Idul Fitri yang dimulai pada Rabu (18/3/2026) hingga Selasa pekan depan. Ironisnya, periode menjelang libur panjang ini justru diwarnai oleh bayang-bayang kekhawatiran yang meliputi kondisi domestik maupun gejolak global.
Di kancah global, pasar keuangan bersiap menghadapi serangkaian sentimen dan rilis data krusial sepanjang pekan ini. Konflik yang memanas di Timur Tengah, dengan potensi dampaknya terhadap pasokan dan harga energi, tetap menjadi pemicu utama pergerakan pasar dunia. Situasi geopolitik ini juga akan sangat memengaruhi keputusan kebijakan moneter dari berbagai bank sentral utama. Sorotan utama memang tertuju pada rapat kebijakan moneter dari setidaknya 11 bank sentral global, termasuk Federal Reserve (The Fed) Amerika Serikat dan Bank Indonesia.
Mengingat pasar domestik akan libur panjang di tengah derasnya rilis data










Tinggalkan komentar