Haluannews Ekonomi – Peneliti Senior Departemen Ekonomi Centre for Strategic and International Studies (CSIS), Deni Friawan, melontarkan peringatan serius terkait prospek ekonomi Indonesia di tahun 2026. Menurutnya, ada empat tantangan fundamental yang berpotensi memicu ketidakstabilan ekonomi domestik, bahkan menyerupai "bom waktu" yang siap meledak. Pernyataan ini disampaikan dalam acara Media Briefing "Outlook 2026: Ancaman dan Risiko Instabilitas Ekonomi, Sosial, dan Politik" pada Rabu (7/1/2026).

Related Post
Ancaman Global yang Kian Membayangi

Deni menyoroti risiko eksternal sebagai faktor pertama. Ekonomi global diproyeksikan masih akan melambat pada 2026, didorong oleh perlambatan mesin pertumbuhan utama seperti China dan Amerika Serikat. China menghadapi deflasi, sementara AS bergulat dengan utang publik dan defisit anggaran yang masif, memicu tekanan inflasi. Ketegangan geopolitik juga memperkeruh suasana, seperti eskalasi konflik antara AS dan Venezuela yang baru-baru ini terjadi, serta potensi gejolak di Timur Tengah. Katalis negatif lainnya termasuk tarif resiprokal ala Donald Trump, larangan ekspor rare earth oleh China, pembatasan chip maker di Eropa dan Inggris, serta tekanan fiskal di Jerman.
Situasi ini membuat prospek ekonomi dunia di 2026 terlihat "suram" dan berimplikasi langsung pada Indonesia. Kekhawatiran utama adalah potensi capital outflow besar-besaran dari pasar obligasi dan saham domestik, yang dapat menekan nilai tukar rupiah dan meningkatkan biaya pinjaman Surat Berharga Negara (SBN). Proyeksi pertumbuhan global dari IMF (3,1%), Bank Dunia (2,4%), dan OECD (2,9%) mengindikasikan perlambatan yang signifikan.
Beban Fiskal dan Utang yang Menggunung
Permasalahan kedua adalah kekuatan fiskal Indonesia yang terbebani utang besar. Deni mengingatkan agar pemerintah berhati-hati terhadap potensi peningkatan utang seiring dengan perkiraan defisit APBN yang mendekati 3% terhadap PDB. Untuk 2025, outlook defisit dipatok 2,78% (membutuhkan pembiayaan Rp 662 triliun), sementara 2026 ditargetkan 2,68% (membutuhkan Rp 689,15 triliun). Yang lebih mengkhawatirkan, pada 2026, utang pemerintah yang jatuh tempo mencapai angka fantastis, berkisar Rp 800 triliun, bahkan data per 2025 menunjukkan angka Rp 833,96 triliun. Jumlah ini wajib di-roll over, menambah tekanan pada kas negara.
PHK, Pengangguran Muda, dan Potensi Kerusuhan Sosial
Risiko ketiga, yang disebut Deni sebagai "bom waktu" sesungguhnya, adalah masalah ketenagakerjaan. Meskipun tingkat pengangguran secara umum menurun, Deni mencatat peningkatan signifikan dalam jumlah pekerja informal. Lebih lanjut, tingkat Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) terus meningkat, dari sekitar 67 ribu orang menjadi 80 ribu orang pada 2025, dengan konsentrasi tertinggi di Jawa Barat, Banten, dan Jawa Tengah. Yang paling mengkhawatirkan adalah tingginya angka pengangguran di kalangan usia muda dan terdidik. "Ini bisa membahayakan suatu waktu seperti kayak time bomb gitu. Kapan dia bisa meletup dan bisa menjadi kerusuhan," tegas Deni, menyoroti potensi instabilitas sosial jika masalah ini tidak tertangani.
Volatilitas Harga Pangan dan Energi yang Tak Terhindarkan
Terakhir, Deni menyoroti risiko volatilitas harga pangan dan energi. Meskipun inflasi umum masih terkendali, harga volatile food dan komoditas utama menunjukkan tren peningkatan, terutama menjelang bulan puasa dan Lebaran. Kekhawatiran semakin besar di wilayah yang terdampak bencana, di mana ketersediaan stok pangan dapat menjadi pemicu lonjakan harga. Di sektor energi, meskipun perlambatan ekonomi global dapat meredam harga, risiko geopolitik di kawasan penghasil minyak seperti Timur Tengah (misalnya, ketegangan di Iran) tetap menjadi ancaman serius yang bisa memicu kenaikan harga energi secara tiba-tiba.
Deni Friawan dari CSIS mengingatkan bahwa kombinasi dari keempat risiko ini memerlukan perhatian serius dari pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan untuk menjaga stabilitas ekonomi dan sosial Indonesia di tahun-tahun mendatang.
Editor: Rohman










Tinggalkan komentar