Haluannews Ekonomi – Perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China kembali memanas, memicu gejolak di pasar keuangan global. Presiden AS, Donald Trump, secara mengejutkan mengumumkan kenaikan tarif impor hingga 100% untuk produk-produk asal China, efektif mulai 1 November mendatang.

Related Post
Trump menuduh China bersikap "luar biasa agresif" dan menyebut tindakan tersebut sebagai "aib moral dalam perdagangan internasional" melalui unggahannya di Truth Social. Ia bahkan memperingatkan pemerintah Presiden Xi Jinping bahwa tarif dapat diberlakukan lebih cepat jika Beijing mengambil langkah-langkah tambahan.

Langkah ini diambil menyusul kontrol ekspor baru yang diterapkan Beijing terhadap mineral tanah jarang (rare earth), material penting yang digunakan dalam semikonduktor, jet tempur, dan teknologi canggih lainnya. Pejabat AS menuding kontrol ekspor China sebagai upaya untuk mendapatkan pengaruh menjelang KTT APEC di Korea Selatan pada akhir Oktober, di mana Trump dan Xi Jinping dijadwalkan bertemu.
Keputusan Trump ini memicu reaksi keras dari pasar. Dow Jones anjlok hampir 900 poin, S&P 500 merosot 2,7%, dan Nasdaq terjun 3,5%, dipimpin oleh saham-saham teknologi dan ritel besar. Para analis memperingatkan bahwa perang dagang yang kembali memanas dapat mengganggu rantai pasokan global menjelang musim liburan.
Di tengah ketidakpastian ini, harga emas melonjak ke rekor tertinggi, didorong oleh permintaan aset safe haven. Harga emas spot sempat naik 0,7% menjadi US$4.044,29 per ons setelah mencapai rekor tertinggi US$4.059,30 di awal sesi. Sementara itu, harga perak juga mencetak rekor tertinggi sepanjang masa, melonjak 2% ke level US$51,52/oz.
Kenaikan tarif ini merupakan langkah taktis dari Trump untuk menekan China agar kembali ke meja perundingan sesuai dengan ketentuan Washington. Dengan menggabungkan diplomasi dan ketegasan ekonomi, Trump berusaha memproyeksikan kekuatan global di berbagai bidang.
Editor: Rohman










Tinggalkan komentar