Titik Balik Pasar? IHSG Tertekan Jelang Imlek, Ini Sinyalnya!

Titik Balik Pasar? IHSG Tertekan Jelang Imlek, Ini Sinyalnya!

Haluannews Ekonomi – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengawali perdagangan Jumat (13/2/2026) dengan performa lesu, tergelincir ke zona merah di tengah antisipasi libur panjang Tahun Baru Imlek dan berbagai sentimen ekonomi domestik maupun global. Pasar modal domestik menunjukkan tekanan signifikan, memicu pertanyaan tentang arah pergerakan selanjutnya.

COLLABMEDIANET

Pada pembukaan sesi pagi, IHSG tercatat melemah 25,34 poin atau 0,31%, berada pada level 8.240,01. Tak berselang lama, tekanan jual semakin intensif, mendorong indeks acuan ini menyentuh titik terendah 8.198,24, terkoreksi sekitar 0,8% dari posisi pembukaan. Aktivitas perdagangan mencatatkan nilai transaksi sebesar Rp 784,6 miliar, melibatkan 1,36 miliar saham dalam 114.800 kali transaksi. Data menunjukkan 178 saham menguat, 153 melemah, dan mayoritas 627 saham belum bergerak, mengindikasikan kehati-hatian investor menjelang jeda pasar.

Titik Balik Pasar? IHSG Tertekan Jelang Imlek, Ini Sinyalnya!
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Pelaku pasar kini menyoroti agenda penting, "Indonesia Economic Outlook 2026," yang digagas oleh Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara. Chief Operating Officer (COO) Danantara, Doni Oskaria, mengungkapkan bahwa Presiden RI Prabowo Subianto dijadwalkan hadir untuk menyampaikan perkembangan ekonomi nasional. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto sebelumnya telah mengonfirmasi bahwa acara ini merupakan respons langsung atas instruksi Presiden Prabowo untuk menjawab penilaian negatif terhadap outlook rating Indonesia yang baru-baru ini terjadi. Pernyataan presiden mengenai stabilitas ekonomi dan langkah-langkah mitigasi pasca-penurunan peringkat akan menjadi sorotan utama.

Di sektor domestik lainnya, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memberikan klarifikasi penting terkait kebijakan pemangkasan kuota produksi dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) tahun 2026. Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara, Tri Winarno, menegaskan bahwa kebijakan ini tidak akan diberlakukan secara merata. Pengecualian khusus diberikan kepada perusahaan pemegang Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara (PKP2B) Generasi Pertama serta Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Ini berarti emiten raksasa seperti PT Bumi Resources Tbk (BUMI), PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI), dan PT Bukit Asam Tbk (PTBA) dipastikan tidak akan terdampak oleh restriksi produksi ini.

Kebijakan afirmatif ini didasari oleh dua pertimbangan utama: kontribusi fiskal yang signifikan dari kelompok tersebut, termasuk kewajiban royalti sebesar 19% dan setoran bagi hasil keuntungan bersih 10% kepada pemerintah pusat dan daerah. Selain itu, urgensi ketahanan energi nasional juga menjadi pendorong, dengan instruksi percepatan pemenuhan kewajiban pasok dalam negeri (Domestic Market Obligation/DMO) sebesar 30% bagi pemegang PKP2B Generasi Pertama guna mengamankan pasokan listrik negara. Meskipun strategi makro pemerintah saat ini berfokus pada pengendalian suplai untuk meredam oversupply global dan menjaga stabilitas harga, entitas strategis seperti PT Arutmin Indonesia, PT Kaltim Prima Coal (KPC), PT Kideco Jaya Agung (Indika Energy), dan PT Berau Coal tetap diberikan fleksibilitas produksi mengingat peran vital mereka dalam struktur penerimaan negara dan energi domestik.

Sementara itu, dari arena global, ketegangan di Timur Tengah terus memanas, menambah lapisan ketidakpastian bagi pasar keuangan. Amerika Serikat dilaporkan memperkuat kehadiran militernya di kawasan tersebut. Berdasarkan analisis citra satelit terbaru, militer AS telah menempatkan sistem pertahanan rudal Patriot pada peluncur bergerak di Pangkalan Udara Al-Udeid, Qatar. Penggunaan Truk Taktis Mobilitas Berat (HEMTT) untuk sistem Patriot ini memberikan keunggulan mobilitas yang signifikan, memungkinkan relokasi aset pertahanan secara cepat dalam situasi darurat. Peningkatan jumlah pesawat tempur dan peralatan militer juga terpantau di pangkalan udara Muwaffaq di Yordania dan Pangkalan Pangeran Sultan di Arab Saudi.

Langkah strategis ini diambil sebagai respons terhadap ancaman yang muncul dari Iran terkait program nuklir dan rudal balistiknya, serta dukungan Teheran terhadap kelompok sekutu di kawasan. Presiden AS Donald Trump, meskipun tetap membuka opsi diplomasi, telah menegaskan kesiapan militernya jika negosiasi menemui jalan buntu. Di sisi lain, Iran telah memperingatkan akan membalas setiap serangan ke wilayahnya dengan menargetkan pangkalan AS. Teheran dikabarkan memiliki kompleks rudal bawah tanah dan telah menyiagakan kapal induk drone di sekitar Bandar Abbas, menambah kompleksitas situasi keamanan di Teluk Persia dan berpotensi memicu gejolak harga komoditas global.

Kombinasi sentimen domestik yang menanti kejelasan arah ekonomi dan ketegangan geopolitik yang memanas menciptakan volatilitas di pasar saham, menuntut kehati-hatian investor menjelang jeda panjang.

Editor: Rohman

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar