Haluannews Ekonomi – Direktur Pengembangan BPJamsostek, Edwin Ridwan, membeberkan strategi investasi lembaga jaminan sosial tersebut untuk tahun 2026, menegaskan komitmennya dalam menjaga keamanan dana peserta di tengah gejolak ekonomi global dan domestik. Dalam sebuah dialog eksklusif di Power Lunch Haluannews.id pada Rabu (18/2/2026), Edwin menguraikan bagaimana BPJamsostek menavigasi volatilitas pasar dan memastikan pertumbuhan dana yang berkelanjutan.

Related Post
Edwin Ridwan menyoroti beberapa sentimen krusial yang akan membentuk arah alokasi aset BPJamsostek hingga tahun 2026. Fluktuasi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang dipicu oleh dinamika global dan domestik, termasuk ketegangan geopolitik, menjadi perhatian utama. Kondisi ini berpotensi menahan laju pemangkasan suku bunga acuan oleh bank sentral, yang pada gilirannya memengaruhi imbal hasil investasi. Menghadapi ketidakpastian ini, BPJamsostek mengambil langkah konservatif dengan menghindari penempatan aset investasi pada instrumen bertenor panjang.

Saat ini, portofolio investasi BPJamsostek didominasi oleh instrumen pendapatan tetap (fixed income), khususnya Surat Berharga Negara (SBN) bertenor menengah, yang mencakup 75% dari total aset. Sisanya dialokasikan pada saham dan reksa dana sebesar 12%, serta deposito sebesar 10%. Penempatan aset ini, jelas Edwin, didasarkan pada profil liabilitas BPJamsostek yang cermat, memastikan keselarasan antara kewajiban pembayaran manfaat dan potensi pengembalian investasi.
Di sisi kepesertaan, BPJamsostek mencatat sekitar 50 juta pekerja aktif. Segmen Pekerja Bukan Penerima Upah (BPU) menunjukkan pertumbuhan yang signifikan, mencapai 30-40% per tahun, meskipun masih banyak potensi pekerja yang belum terjangkau. Peningkatan cakupan ini menjadi salah satu fokus utama BPJamsostek ke depan.
Dari segi kinerja keuangan, BPJamsostek menunjukkan performa positif. Hingga Desember 2025, penerimaan iuran mencapai Rp 113,5 triliun, tumbuh 8% secara tahunan (yoy). Sementara itu, pembayaran manfaat klaim tercatat sebesar Rp 68,24 triliun, meningkat 19,4% (yoy). Untuk tahun 2026, BPJamsostek memproyeksikan penerimaan iuran akan mencapai Rp 118 triliun, dengan estimasi pembayaran klaim yang juga meningkat menjadi Rp 78,4 triliun. Angka-angka ini menunjukkan pertumbuhan yang sehat dan kemampuan BPJamsostek dalam memenuhi kewajibannya kepada para peserta.
Strategi investasi yang hati-hati dan terukur, dikombinasikan dengan pertumbuhan kepesertaan dan kinerja keuangan yang solid, menjadi fondasi BPJamsostek dalam memastikan dana jaminan sosial pekerja tetap aman dan memberikan manfaat optimal di masa depan.
Editor: Rohman










Tinggalkan komentar