Haluannews Ekonomi – Klaim fantastis mengenai simpanan emas batangan seberat 57 ton milik Proklamator Republik Indonesia, Presiden Soekarno, di perbankan Swiss kembali mencuat ke permukaan publik. Narasi yang beredar bahkan menyebutkan bahwa kekayaan luar biasa ini, yang jika dikonversi dengan nilai tukar saat ini ditaksir mencapai Rp130 triliun, pernah menjadi jaminan pinjaman bagi John F. Kennedy untuk mendanai pembangunan Amerika Serikat pada dekade 1960-an. Namun, di tengah gemuruh spekulasi tersebut, berbagai catatan dan fakta sejarah justru menyajikan gambaran yang kontras, mengindikasikan bahwa legenda emas Soekarno ini mungkin jauh dari kebenaran.

Related Post
Alih-alih memiliki harta melimpah, data historis yang dihimpun Haluannews.id justru menunjukkan bahwa Bung Karno kerap menghadapi keterbatasan finansial sepanjang masa kepemimpinannya. Kondisi ini secara gamblang diungkapkan oleh Soekarno sendiri dalam sesi wawancaranya dengan jurnalis Amerika Serikat, Cindy Adams. Ia mengisahkan bahwa gajinya sebagai seorang kepala negara hanya sebesar US$220 per bulan, sebuah angka yang jauh dari citra seorang pemilik aset triliunan.

Lebih lanjut, Soekarno juga mengakui tidak memiliki properti pribadi berupa rumah atau tanah, sehingga wajar apabila ia harus berpindah dari satu istana negara ke istana negara lainnya. Kisah pilu lainnya datang saat kunjungan ke luar negeri, di mana seorang duta besar merasa iba dan membelikannya piyama baru karena melihat pakaian tidurnya yang sudah usang. "Adakah Kepala Negara yang melarat seperti aku dan sering meminjam-minjam dari ajudannya?" demikian pertanyaan retoris Soekarno kepada Cindy Adams yang termuat dalam buku "Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia" (1964).
Saking minimnya kepemilikan aset, Bung Karno bahkan pernah menolak tawaran rakyat untuk membangunkan sebuah gedung secara patungan. Penolakan ini dilandasi oleh prinsipnya untuk tidak ingin merepotkan rakyat, sebuah sikap yang semakin menegaskan kesederhanaan hidupnya.
Pernyataan Soekarno tersebut diperkuat oleh putra sulungnya, Guntur Soekarnoputra. Dalam kolom opini yang dimuat di Media Indonesia pada 26 September 2020, Guntur secara tegas menyatakan bahwa ayahnya tidak memiliki banyak uang, baik sebelum maupun saat menjabat sebagai Presiden RI. Ia bahkan mengungkapkan kebiasaan ayahnya meminjam uang dari sahabat karibnya sejak era pergerakan, salah satunya Agoes Moesin Dasaad. "Sebagai presiden, Bung Karno adalah presiden yang paling miskin di dunia ini. Ia tidak punya tanah, tidak punya rumah, apalagi logam-logam mulia seperti yang digembar-gemborkan orang selama ini," tutur Guntur.
Guntur juga secara lugas membantah klaim kepemilikan emas berton-ton tersebut, menyebutnya tidak masuk akal. "Sekarang katanya emasnya berton-ton. Pikir saja, kalau emas berton-ton disimpan di bank di Swiss, yang saya sendiri pernah ke sana, itu ruang penyimpanan uang di Swiss enggak akan muat diisi emas segitu banyak. Jadi saya pikir ini bohong semua ini," tegas Guntur, menyoroti aspek logistik dan kapasitas penyimpanan bank yang tidak mungkin mengakomodasi volume emas sebesar itu.
Dari perspektif akademis, sejarawan terkemuka Indonesia, Ong Hok Ham, juga turut membantah rumor harta segunung Soekarno. Melalui karyanya "Kuasa dan Negara" (1983), Ong mematahkan narasi tersebut, termasuk cerita warisan kekayaan dari Kerajaan Mataram Islam. Menurut Ong, tidaklah mungkin seseorang mewarisi harta sedemikian besar dari kerajaan kuno, apalagi dalam bentuk batangan emas, mengingat kekayaan kerajaan saat itu tidak sebesar yang dibayangkan dan bahkan Mataram Islam disebut masih memiliki utang kepada VOC.
Ong Hok Ham menyederhanakan argumennya: jika Soekarno benar-benar memiliki simpanan emas yang fantastis, logikanya ia tidak akan hidup dalam kesulitan finansial hingga akhir hayatnya. Dengan demikian, berbagai bukti dan kesaksian historis secara konsisten mengikis validitas cerita harta karun emas batangan Presiden pertama Indonesia. Informasi ini diharapkan dapat meluruskan persepsi khalayak dan mengakhiri peredaran disinformasi terkait legenda emas 57 ton Soekarno yang selama ini beredar.
Editor: Rohman










Tinggalkan komentar