Terkuak! Kekayaan Pendiri Labubu Rp45 T Amblas Meski Untung Besar

Haluannews Ekonomi – Pendiri Pop Mart, Wang Ning, yang dikenal luas sebagai otak di balik fenomena boneka monster Labubu, harus menyaksikan kekayaannya menyusut drastis. Berbasis di Beijing, Wang Ning mencatat kerugian harta sebesar US$2,7 miliar, atau setara dengan Rp45,87 triliun, menyusul anjloknya saham perusahaannya lebih dari 22% di bursa saham. Kejadian ini menjadi sorotan tajam di tengah laporan kinerja keuangan Pop Mart yang sebenarnya menunjukkan pertumbuhan impresif.

COLLABMEDIANET

Menurut laporan dari VN Express International, saham produsen mainan koleksi yang terdaftar di bursa Hong Kong ini mengalami koreksi tajam pada hari Rabu, setelah rilis laporan keuangan tahunan 2025. Penurunan ini secara langsung memangkas kekayaan bersih Wang Ning menjadi US$13,6 miliar, atau sekitar Rp231,07 triliun, mengingat mayoritas asetnya terikat pada kepemilikan saham di Pop Mart.

Terkuak! Kekayaan Pendiri Labubu Rp45 T Amblas Meski Untung Besar
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Ironisnya, amblesnya nilai saham ini terjadi di tengah performa finansial Pop Mart yang justru mencatatkan angka-angka fantastis. Sepanjang tahun 2025, penjualan perusahaan meroket 184,7% secara tahunan, mencapai 37,1 miliar yuan (sekitar US$5,4 miliar). Laba bersih pun tak kalah mengagumkan, melesat hampir empat kali lipat hingga menyentuh angka 13 miliar yuan.

Namun, para investor tampaknya lebih menyoroti sinyal-sinyal perlambatan pertumbuhan di pasar internasional yang terdeteksi pada kuartal terakhir tahun tersebut, mengesampingkan kilau laporan keuangan secara keseluruhan.

Ke Yan, Kepala Riset DZT Research yang berbasis di Singapura, menggarisbawahi bahwa pembaruan data triwulanan sebelumnya telah mengindikasikan "perlambatan signifikan" dalam ekspansi bisnis Pop Mart di luar Tiongkok. Ini kontras tajam dengan kuartal ketiga, di mana penjualan di pasar internasional sempat melonjak sekitar 245%.

Senada, Jeff Zhang, seorang analis dari Morningstar, turut menyampaikan kekhawatirannya. Ia menyebut bahwa pertumbuhan pendapatan dan laba yang dicapai Pop Mart masih di bawah ekspektasi para analis, memicu pertanyaan besar mengenai daya tahan jangka panjang dari kekayaan intelektual (IP) inti perusahaan.

Zhang juga menyoroti aspek negatif lain, yakni penurunan rasio pembayaran dividen menjadi 25% pada tahun 2025 dari sebelumnya 35% di tahun 2024. "Pop Mart memang telah memperluas lini bisnisnya ke lisensi dan operasional taman hiburan, namun kami menilai risiko eksekusi untuk segmen-segmen baru ini masih tergolong tinggi," ujar Zhang, seperti dikutip Haluannews.id dari VN Express International, Sabtu (28/3/2026).

Selama ini, motor penggerak utama pertumbuhan Pop Mart tak lain adalah popularitas global Labubu, karakter bergigi ompong yang berhasil bertransformasi menjadi fenomena koleksi yang digandrungi di seluruh penjuru dunia.

Meski demikian, Pop Mart kini tengah gencar memperluas jajaran kekayaan intelektual (IP) mereka. Strategi ini bertujuan untuk mendiversifikasi portofolio IP perusahaan dengan memperkenalkan dan mempromosikan karakter-karakter baru seperti Twinkle Twinkle, agar dapat berdiri sebagai daya tarik tersendiri, bukan sekadar pengganti Labubu.

Wang Ning, yang juga menjabat sebagai CEO dan Ketua Dewan perusahaan, menegaskan dalam sesi panggilan pasca-laporan pendapatan bahwa, "Pop Mart memiliki lebih dari sekadar Labubu."

Ia secara terbuka mengakui beratnya tantangan dalam menjaga laju ekspansi yang begitu pesat. Wang bahkan menganalogikan pengalaman tersebut seperti "seorang pembalap pemula yang mendadak dilemparkan ke sirkuit F1 – baik sang pembalap maupun mobilnya berada di bawah tekanan yang luar biasa besar."

Untuk prospek ke depan, Wang Ning memproyeksikan pendapatan perusahaan akan tumbuh minimal 20% secara tahunan di tahun ini. Namun, ia menekankan komitmen untuk tidak mengorbankan profitabilitas. "Kami tidak akan mengejar pertumbuhan yang terlalu agresif, yang hanya akan mendongkrak pendapatan namun mengorbankan profitabilitas," tegas Wang.

Pop Mart juga berencana untuk terus memperkaya kategori produknya, termasuk merambah ke segmen peralatan rumah tangga, yang dijadwalkan akan meluncur paling cepat bulan depan.

Perjalanan Pop Mart dimulai pada tahun 2010, ketika Wang Ning yang kala itu berusia 23 tahun mendirikan sebuah toko mainan kecil di Tiongkok. Dalam beberapa tahun terakhir, perusahaan ini mencatat ekspansi pesat, sebagian besar berkat Labubu, karakter "jelek tapi imut" yang berhasil mere

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar