Haluannews Ekonomi – Pasar modal Indonesia menyaksikan fenomena menarik sepanjang periode 1 hingga 23 Februari 2026, di mana pergerakan investor asing terhadap saham-saham perbankan jumbo menunjukkan arah yang kontras. Jika PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) menjadi incaran utama, nasib berbeda justru dialami PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) yang mengalami tekanan jual signifikan dari investor global.

Related Post
Data transaksi pasar mencatat, BBCA teridentifikasi sebagai emiten dengan penjualan bersih investor asing (net foreign sell) terbesar, mencapai angka fantastis Rp 4,16 triliun dalam kurun waktu tersebut. Hanya PT Bumi Resources Tbk (BUMI) yang mendekati nilai penjualan bersih ini dengan Rp 3,36 triliun. Aksi jual masif ini turut menekan kinerja saham BBCA, yang pada periode yang sama terkoreksi 1,37% dan ditutup di level Rp 7.300.

Di sisi lain, dua bank milik negara, BMRI dan BBRI, justru menikmati aliran dana masuk dari investor asing. BMRI mencatat pembelian bersih sebesar Rp 2,12 triliun, mendorong harga sahamnya melonjak 9,44%. Sementara itu, BBRI juga membukukan pembelian bersih Rp 468,6 miliar, dengan kenaikan harga saham 2,36%.
Managing Director Solstice Indonesia, Handiman, menjelaskan bahwa perbedaan arah investasi ini mengindikasikan adanya rotasi portofolio yang dilakukan oleh investor asing. "Ada kemungkinan investor melakukan rotasi dari saham bervaluasi tinggi dan mencari peluang di saham dengan valuasi lebih menarik," ujarnya kepada Haluannews.id pada Selasa (24/2/2026).
Handiman menambahkan, daya tarik dividen juga menjadi faktor penentu. Bank-bank pelat merah dikenal menawarkan imbal hasil dividen yang lebih menggiurkan, berkisar antara 7% hingga 9%, jauh di atas BBCA yang hanya sekitar 3%. Selain itu, potensi penurunan peringkat pasar modal Indonesia oleh MSCI dan revisi prospek perbankan oleh Moody’s turut memberikan dampak signifikan, terutama bagi BBCA. "Bobot BBCA sendiri adalah yang terbesar di indeks MSCI, mencapai 25%-27% sehingga paling terdampak," tegasnya.
Senada dengan Handiman, analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, menggarisbawahi posisi BBCA yang memiliki bobot besar dalam indeks global serta tingkat kepemilikan asing yang tinggi. "Ketika terjadi penyesuaian alokasi EM (Emerging Markets) atau arus keluar dari dana global, saham dengan kapitalisasi besar dan likuiditas tinggi seperti BBCA sering menjadi sumber likuiditas utama untuk dilepas," jelas Lukman.
Secara keseluruhan, tekanan jual asing di pasar modal Indonesia mulai mereda pada bulan kedua tahun 2026. Hingga 23 Februari 2026, investor asing tercatat melakukan pembelian sebesar Rp 100,91 triliun dan penjualan Rp 104,31 triliun, menghasilkan penjualan bersih Rp 3,39 triliun. Angka ini jauh lebih rendah dibandingkan penjualan bersih pada bulan sebelumnya yang mencapai Rp 9,3 triliun, meskipun total nilai transaksi asing juga mengalami penurunan drastis.
Reza Fahmi, Senior Vice President, Head of Retail, Product Research & Distribution Henan Putihrai Asset Management, turut memberikan pandangannya. Menurutnya, BBCA secara historis diperdagangkan pada level valuasi premium dibandingkan dengan bank sejenisnya. "Dalam fase tertentu, ketika investor global melakukan penyesuaian portofolio, saham dengan valuasi lebih tinggi cenderung menjadi sumber likuiditas untuk realokasi ke saham yang dinilai memiliki ruang lebih besar," kata Reza.
Lebih lanjut, persepsi terhadap profil pertumbuhan dan strategi ekspansi kredit juga memainkan peran penting. BMRI dan BBRI dalam periode ini dipersepsikan memiliki momentum pertumbuhan kredit yang lebih agresif, sehingga menarik minat investor yang mencari eksposur terhadap akselerasi siklus ekonomi. Sementara itu, pendekatan BBCA yang lebih konservatif dan berfokus pada kualitas aset sering kali menghasilkan stabilitas jangka panjang, namun dalam fase "risk-on" atau pencarian risiko, bisa terlihat kurang agresif dibandingkan pesaingnya.
Editor: Rohman





Tinggalkan komentar